Skip to main content

Indonesia Butuh Strong Leadership

Oleh: Ch Robin Simanullang
Wartawan Tokoh Indonesia

Sepuluh tahun reformasi telah membuahkan berbagai perubahan menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Terutama perubahan di bidang politik (demokrasi dan kebebasan berpendapat) telah mencapai hasil terbaik dibanding bidang lain. Tapi masih belum berhasil di bidang ekonomi (menyejahterakan rakyat).

Faktor pemimpin yang kurang kuat tampaknya justru memperlambat pencapaian hasil menyejahterakan rakyat tersebut. Dari pengalaman 10 tahun reformasi itu, agar refor-
masi, demokrasi, penegakan hukum dan keamanan bermuara (menjadi solusi) pada kesejahteraan rakyat, Indonesia sangat butuh pemimpin yang kuat (strong leadership).


Siapa dia pemimpin yang kuat itu? Apakah Susilo Bambang Yudhoyono pemimpin yang kuat? Atau apakah dia Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Amien Rais, BJ Habibie, Sutiyoso, Wiranto, Sri Sultan HBX, Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Yusril Ihza Mahendra, Mbak Tutut, atau Prabowo Subianto? Ataukah Soetrisno Bachir, Din Syamsuddin, Fadel Muhammad, Teras Narang, Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Suryadharma Ali, Sri Mulyani Indrawati, dan Muhaimin Iskandar?

Ataukah Yenny Wahid, Puan Maharani, Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng dan Budiman Sujatmiko? Atau mungkinkah Rano Karno, Diah Pitaloka, Dede Yusuf, Tukul, Komar, dan Inul Daratista? Oleh hasil reformasi politik, semua mereka berpeluang, walaupun belum tentu mereka semua pemimpin yang kuat.

Dalam konteks ini, siapa yang dimaksud pemimpin yang kuat itu? Tentu dia tidak cukup hanya memiliki kriteria kepemimpin secara umum atau hanya memenuhi persyaratan formal sebagaimana ditentukan dalam undang-undang, tetapi harus lebih daripada itu. Terutama dia harus berjiwa pahlawan. Pemimpin yang pahlawan sesunguh-sungguhnya! Pemimpin yang rela berkorban, pejuang, visioner, tulus dan pamrih demi kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Pemimpin yang pahlawan, tidak mementingkan tebar pesona, kepentingan politik diri sendiri atau kelompok.

Pemimpin yang mampu dan berani mengatasi masalah bangsa sesuai nilai-nilai dasar negara dan konstitusi. Pemimpin yang taat terhadap konstitusi serta memiliki dan mampu (berani) mempertahankan visinya yang besar tanpa harus terganggu atau terpengaruh oleh isu dan tekanan berbagai kepentingan kelompok tertentu.

Pertanyaan berikutnya, siapa di antara kita pemimpin yang kuat dan berjiwa pahlawan? Barangkali, semua kita dan mereka yang disebut di atas, akan mengaku pemimpin yang kuat dan berjiwa pahlawan, siap berjuang (rela mati) demi rakyat, bangsa dan negara. Dan, itu pulalah masalah yang tengah kita hadapi. Ketika kita semua merasa jadi pahlawan tanpa bukti perbuatan. Padahal, pahlawan adalah perbuatan. Pahlawan tanpa perbuatan adalah omong kosong (mati).

Pertanyaan berikutnya, mengapa kita butuh pemimpin yang kuat (pahlawan). Sebab kita tengah mengahadapi krisis multidimensional. Bukan hanya krisis moneter, ekonomi dan kemiskinan, tetapi juga krisis moral, penegakan hukum dan krisis identitas diri sebagai bangsa merdeka dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ada Ormas dan kelompok berjubah mengatasnamakan agama bertindak sebagai penegak hukum, menjadi hakim bagi pihak lain. Ada daerah yang berniat memisahkan diri. Ada kelompok bahkan Parpol yang menghendaki negara ini berubah menjadi negara berdasarkan ajaran agama tertentu bukan lagi NKRI berdasarkan Pancasila. Bahkan kebebasan beragama pun terancam akibat penyelesaian tambal sulam dan kompromistis serta tidak taat kepada konstitusi.

Di tengah kondisi bangsa ini sedang mengalami krisis multidimensional berkepanjangan itu, kita berharap reformasi akan jadi solusi. Dan, agar reformasi jadi solusi, kita sangat butuh pemimpin yang kuat, pemimpin yang pahlawan sesunguh-sungguhnya. Pemimpin yang mengabdikan diri, visioner, kaya ide untuk memecahkan masalah bangsa.

Siapa orang yang memiliki kepemimpinan seperti itu? Jika melihat para elit politik saat ini, rasanya cukup sulit untuk mendapatkan pemimpin yang dapat melakukan berbagai hal untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi bangsa saat ini. Namun, kita tidak boleh pesimistis. Lebih baiklah kita beranggapan bahwa sebagian dari elit bangsa ini punya visi besar untuk mengatasi masalah bangsa. Juga punya keberanian melepaskan diri dari berbagai kepentingan politik kelompoknya untuk melaksanakan visi besarnya itu sesuai nilai-nilai dasar Pancasila dan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Direktur Eksekutif Lead Institute Bima Arya Sugiarto mengatakan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menanamkan nilai baru di masyarakat. Menurut Bima, kita tidak cukup dengan pemimpin yang dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek masyarakat. Kita butuh pemimpin yang dapat memberi kesadaran tentang hal-hal yang lebih substansial seperti bagaimana menghargai prestasi dan menempatkan materi di posisi yang seharusnya.

Itu berarti pemimpin yang tak sekadar memenuhi persyaratan formal dan standar prosedur, sekadar berpendidikan (persyaratan S1) atau doktor, tetapi lebih daripada itu. Bisa saja seorang pemimpin hanya berpendidikan formal SMA atau S1, tapi memiliki kepemimpinan yang jauh lebih kuat daripada yang lain. Bisa juga dia pemimpin berusia tua atau muda, lelaki atau perempuan, dari golongan mayoritas atau minoritas. Artinya, tidak ada dikotomi pendidikan formal, usia, jender dan golongan.

Untuk itu, memang kita masih memerlukan kedewasaan politik (demokrasi). Reformasi sudah berhasil membuahkan demokrasi. Namun, jika dicermati, keberhasilan di bidang politik (demokrasi), masih bertumpu pada keberhasilan rakyat dan para aktivis 1998. Para elit politik masih hanya lebih berperan mengakomodir dan memanfaatkan peluang reformasi politik itu. Sehingga dari berbagai hasil survey mengindikasikan semakin berkurangnya kepercayaan rakyat pada parpol dan para elit politik.

Barangkali hal ini disebabkan sebagian besar dari elit politik itu adalah pemain lama, yang punya jabatan, termasuk pemimpin Ormas dan Orpol yang ‘direstui atas petunjuk presiden’ pada era sebelumnya (Orde Baru). Mereka ini umumnya ramai-ramai menjadi reformis dengan menyalahkan mantan Presiden Soeharto, si pemberi restu, tapi selalu lupa menyalahkan diri sendiri (introspeksi) yang sebelumnya selalu bangga minta restu dan petunjuk presiden. Dan, saat ini mereka-mereka jualah alternatif pemimpin yang harus dipilih rakyat baik melalui, Pemilu legislatif, Pemilu Presiden, maupun Pilkada.

Namun kita tidak bermaksud bersikap pesimistis, apalagi berprasangka buruk terhadap para elit politik. Dalam gerak reformasi, sebagaimana dikemukakan R William Liddle, Guru Besar Ilmu Politik Ohio State University, AS, yang ahli dan banyak mengamati perkembangan politik di Indonesia, bahwa negara kita yang sedang memanfaatkan lembaga-lembaga demokrasi, pemerintahan presidensial dan otonomi daerah untuk menemukan jawaban serba baru pada tuntutan zaman yang serba baru, kita jangan terlalu terkejut jika ada seorang Obama ala Indonesia yang muncul mendadak dalam kurun waktu lima tahun ke depan. (Opini Kompas, 10 Juni 2008).

Kita sependapat dengan R William Liddle, dan sekaligus berharap Obama bisa menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa ini, terutama bagi para calon pemimpin di negeri ini. Yakni munculnya pemimpin muda, pintar, terampil bicara, visioner, dan kaya ide, tanpa melihat dari golongan mana (mayoritas atau minoritas) untuk memecahkan masalah bangsa.

Siapa pemimpin muda yang potensial seperti Obama di Indonesia? Barangkali, hanya sekadar contoh, bisa saja dia itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dia muda, cantik (simpatik), cerdas, pintar, terampil bicara, kaya ide, punya pengalaman internasional dan pengalaman birokrasi. Atau mungkin Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad. Atau, seperti dikemukakan Dr Saiful Mudjani, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia dalam percakapan dengan reporter Tokoh Indonesia, bisa saja keduanya berpasangan sebagai Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden.

Atau bisa saja Syaykh Abdussalam Panji Gumilang yang berhasil membangun lembaga pendidikan terpadu Al-Zaytun secara spektakuler berpasangan dengan Sri Mulyani Indrawati.

Panji Gumilang itu pemimpin yang kuat, cerdas, cermat, bijak, kaya ide dan piawai mengimplementasikan ide-ide besarnya, taat nilai dan azas (nilai-nilai dasar negara dan konstitusi), cinta damai, menghargai pluralisme (interdependensi) dan beriman.

Atau sejumlah nama lain, seperti Hidayat Nurwahid – Teras Narang (PKS-PDIP) atau Pramono Anung – Yenny Wahid (PDIP-PKB), atau Soetrisno Bachir - Puan Maharani (PAN-PDIP), atau Tifatul Sembiring – Faisal Basri (PKS-Ekonom), atau tokoh muda potensial lainnya.

Penyebutan nama di atas tidak berpretensi atau bermaksud menyebut Si ABCD, sebagai pemimpin yang kuat dan terbaik, sedangkan Si EFGH, sebagai pemimpin yang lemah atau buruk. Bukan juga berarti pemimpin yang sudah relatif tua tidak lebih pantas, atau pemimpin muda belum pantas. Tua-muda dan dari kelompok mayoritas-minoritas tidak menjadi batasan, tetapi kualitas kepemimpinan merekalah yang menentukan apakah layak atau tidak seperti Obama, sehingga rakyat memilih karena percaya kepada mereka untuk memecahkan masalah bangsa.

Selain nama tokoh-tokoh yang disebut di atas, juga terdapat sejumlah nama yang diprediksi berpeluang ikut dalam persaingan (demokrasi) Pilpres 2009. Sebagian di antara mereka telah menyatakan diri, sebagaian lagi belum menyatakan diri namun telah disebut-sebut menjadi calon pemimpin (presiden dan wakil presiden) pada Pemilu Presiden 2009 nanti.

Di antara mereka yang sudah menyatakan diri dan sudah disebut-sebut menjadi calon presiden pada Pilpres 2009 nanti adalah Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Sutiyoso, Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Wiranto, Sri Sultan HBX, Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Yusril Ihza Mahendra, Mbak Tutut, Prabowo Subiakto, Din Syamsuddin, Sutrisno Bachir, Suryadharma Ali, Sri Mulyani Indrawati dan Fadel Muhammad.

Sudah sangat banyak dipublikasikan bagaimana jejak rekam dan visi beberapa orang tokoh tersebut? Juga bagaimana kemungkinan persaingan, siapa berpasangan dengan siapa dan proyeksi siapa di antara mereka yang paling berpeluang menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2009-2014. Dalam kata lain, bagaimana prediksi peta politik Pilpres 2009?

Beberapa lembaga survey mengindikasikan akan terjadi persaingan antara beberapa tokoh. Hasil survei beberapa lembaga, periode Oktober 2007 s/d Mei 2008, masih mengindikasikan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemenang bila saat itu dilakukan pemilihan presiden.

Namun hasil Survei Indo Barometer terakhir (5 Juni-16 Juni 2008), dengan 1.200 responden di 33 provinisi, dengan metode multistage random sampling, menunjukkan, hanya 31,3 persen responden yang menginginkan Presiden SBY menjabat lagi untuk periode 2009-2014. Yang tak menginginkan 50,6 persen dan yang tidak menjawab atau tidak tahu 18,1 persen.

Menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari saat merilis hasil survei tersebut di Jakarta, Minggu (29/6/2008) untuk pertama kalinya dalam survei Indo Barometer, tingkat kepuasan terhadap SBY di bawah 50 persen. Demikian juga dukungan terhadapnya. Jika pemilihan presiden dilaksanakan hari ini (Juni 2008), dukungan terhadap SBY untuk pertama kali pula berada di bawah Megawati.

Ketika diajukan pertanyaan terbuka, siapa calon presiden yang akan dipilih bila pemilu dilakukan hari ini, pilihan terbanyak jatuh kepada Megawati Soekarnoputri (26,1 persen) dan SBY menempati urutan kedua, dengan 19,1 persen. Urutan berikutnya Wiranto 7,8 persen, Gus Dur 5,3 persen, Sri Sultan 4,8 persen, Hidayat 3,9 persen, Amien Rais 2,7 persen, Prabowo 1,5 persen, dan nama lain 4,5 persen serta tidak menjawab 24,3 persen.

Begitu pula untuk pertanyaan tertutup (pipihan nama sudah ditentukan), siapa calon presiden yang akan dipilih bila pemilu dilakukan hari ini, Megawati Seokarnoputri juga menempati urutan teratas yakni 30,4 persen dan SBY di urutan kedua 20,7 persen Salanjutnya Wiranto 9,3 persen, Sri Sultan 8,8 persen, Gus Dur 6,0 persen, Hidayat Nurwahid 4,9 persen, Amien Rais 4,3 persen, Prabowo 1,8 persen, Sutiyoso 1,3 persen, Jusuf Kalla 1,1 persen dan tidak menjawab 11,4 persen.

Namun, M Qodari belum bisa memprediksi bagaimana gambaran capres pada setahun ke depan. “Memang fluktuatif dan tidak bisa ditebak,” katanya. Dia memberi contoh Wiranto yang sebelumnya sempat turun, tapi kemudian sekarang naik drastis.

Sementara itu, pertanyan terbuka untuk posisi wakil presiden yakni Sri Sultan menempati urutan teratas 11,8 persen, disusul Jusuf Kalla 10,7 persen, Hidayat Nurwahid 7,8 persen, Wiranto 4,1 persen, Yusril Ihza Mahendara 3,3 persen, Prabowo 3,0 persen, Akbar Tandjung 2,8 persen, Hasyim Muzadi 2,8 persen, nama lain 17,1 persen, dan yang tidak menjawab 36,6 persen.

Untuk pertanyaan tertutup, Sri Sultan juga teratas 19,9 persen, Jusuf Kalla 12,3 persen, Hidayat Nurwahid 10,7 persen, Prabowo 4,9 persen, Yusril Ihza Mahendra 4,9 persen, Akbar Tandjung 4,6 persen, Jimly Asshiddiqie 4,1 persen, Hasyim Muzadi 4,0 persen, Din Syamsuddin 3,3 persen, Agung Laksono 2,8 persen, Aburizal Bakrie 2,2 persen, Soetrisno Bachir 2,1 persen, Surya Paloh 1,6 persen, Fadel Muhammad 1,2 persen, Gamawan Fauzi 0,8 persen, Adang Daradjatun 0,7 persen, Hatta Rajasa 0,4 persen, Tifatul Sembiring 0,1 persen, dan Suryadharma Ali 0 persen. Sedangkan sisanya yang tidak menjawab 23,6 persen.

Kenaikan signifikan diraih Ketua Umum Partai Hanura Wiranto. Sebelumnya, popularitas mantan Menteri Pertahanan Keamanan dan Panglima ABRI itu pada survei Desember 2007, hanya 4,8 persen. Artinya, kenaikan popularitas Wiranto mencapai 4,5 persen. Popularitas Megawati Soekarnoputri juga naik dari 27,4 persen pada survei Desember 2007 menjadi 30,4 persen. Popularitas Sri Sultan sebagai capres juga terus naik dari mencapai 6,3 persen menjadi 8,8 persen.

Hasil survei Indo Barometer Juni 2008 ini mengindikasikan rontoknya popularitas Presiden SBY, hanya 36,3 persen masyarakat (responden survei) yang puas terhadap kinerja Presiden. Level ini menjadi titik terendah popularitasnya selama memimpin. Hasil survei sebelumnya pada Mei 2007, popularitas Presiden masih 50,3 persen dan Desember 2007 malah malah melesat ke 55,6 persen. Namun, setelah kenaikan harga BBM, popularitas SBY rontok ke level 36,3 persen.

Hasil survei lembaga lain, Lembaga Riset Informasi (LRI) Mei 2008 juga mengindikasikan hal yang sama, popularitas SBY sudah anjlok menjadi 35,60 persen. Sementara survei LRI Desember 2007 masih 44 persen.

Menurut Qodari, kondisi ini harus menjadi lampu merah bagi tim SBY. Sebab, kata dia, dari data Indo Barometer, incumbent yang popularitasnya sudah di bawah 50 persen, bila maju lagi ke pemilihan akan tumbang.

Sebelumnya, berdasarkan poling Lembaga Survei Indonesia (LSI periode November 2004 hingga Oktober 2007), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih dinilai sebagai tokoh yang lebih mampu dalam mengatasi masalah-masalah mendesak saat ini (Oktober 2007) dibandingkan tokoh (calon presiden) lainnya.

Survei LSI 2007, responden masih menilai SBY sebagai tokoh yang paling mampu dalam mengatasi masalah paling mendesak, yakni 35 persen, disusul Megawati 22 persen, Amin Rais 6 persen, JK 5,5 persen, Wiranto 5 persen, Sultan HB X 5 persen, dan Sutiyoso 1 persen. Selain itu, SBY juga dinilai lebih bisa dipercaya, dengan nilai 30,5 persen, Megawati 18,0 persen, Amien Rais 8.0 persen, JK 4,0 persen, Wiranto 3.0 persen, Sultan 6.0 persen, dan Sutiyoso 0,5 persen. Tokoh yang lebih perhatian pada rakyat, SBY 35,0 persen, Megawati 23,0 persen, Amien Rais 5,0 persen, Sultan 5,0 persen, JK 4,0 persen, Wiranto 3,0 persen, dan Sutiyoso 1,0 persen.

Polling LSI menunjukkan bila pilpres dilakukan Oktober 2007 dengan diikuti tujuh calon presiden, pemenangnya masih SBY, disusul Megawati. Jika calon presiden hanya dua, yaitu SBY dan Megawati Soekarnoputri, yang menang juga SBY 55 persen dan Megawati 35 persen.

Memang, jika dicermati, hasil survei LSI itu juga menunjukkan terus turunnya tren sikap electoral kepada SBY dari 63 persen (Oktober 2006) menjadi 55 persen (Oktober 2007). Sedangkan tren sikap electoral kepada Megawati justru terus meningkat dari 23 persen (Oktober 2006) menjadi 35,5 persen (Oktober 2007). Bahkan tingkat kepuasan publik pada kinerja Presiden SBY, menurut survei Lembaga Survei Indonesia terakhir (Mei 2008), sudah turun menjadi 54 persen, dari 67 persen Oktober 2007. Pada saat baru dilantik, November 2004, tingkat kepuasan publik mencapai 80 persen.

Bahkan hasil survey Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Oktober 2007 pun telah menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap SBY-JK telah merosot ke titik paling rendah. Saat dilantik Oktober 2004, kepuasan publik di atas 80 persen. Setelah hampir tiga tahun berjalan, merosot cepat dan tajam tinggal 35,3 persen atau merosot 45 persen.

Menurut Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dalam diskusi publik Peluang Pemimpin Baru pada Pemilu 2009 di Hotel Atlet Century Park Jakarta, Oktober 2007, rendahnya tingkat kepuasan atas kinerja SBY merata di semua segmen.

Pemilih di Jawa paling kecewa (66,9 persen), luar Jawa (46,6 persen). Dua suku terbesar juga kecewa pada SBY-JK: Jawa (57 persen) dan Sunda (80,7 persen). Dari segmen (level) pendidikan, kalangan bawah lebih kecewa (61 persen) dibanding kalangan terpelajar (54,1 persen). Sedangkan pemilih partai, hanya pemilih Partai Demokrat yang menyatakan puas (59,3 persen) dengan SBY. Paling kecewa adalah pemilih PAN (75 persen) dan PDIP (72,6 persen).

Denny menyebut empat alasan mengapa SBY mengalami defisit kepercayaan publik. Pertama, kekecewaan atas kinerja ekonomi. Kedua, degradasi program pemberantasan korupsi. Ketiga, publik meragukan kemampuan SBY mengatasi masalah bangsa. Keempat, berjaraknya harapan dan kenyataan.

Menurut Denny, empat hal itu membuat rakyat mulai melakukan mental switch mencari pemimpin baru. Hasil survey Lingkaran Survei Indonesia, hanya 23,7 persen pemilih yang menyatakan akan memilih kembali SBY, sementara 46,4 persen lagi akan memilih calon di luar SBY. Siapa mereka? Menurut Denny, lima nama teratas adalah Megawati, Wiranto, Jusuf Kalla, Sultan Hamengkubuwono X dan Sutiyoso.

Menurut Danny, pemimpin yang paling berpeluang menang adalah yang punya contrasting tinggi dengan SBY. Mereka adalah yang punya karakter pemimpin kuat (strong leadership). Danny menyebut tiga nama masuk kategori ini, yaitu Jusuf Kalla, Wiranto dan Sutiyoso. Namun yang paling berpeluang adalah Wiranto dan Sutiyoso, karena Jusuf Kalla dari luar Jawa. Menurut Danny, walaupun survei LSI menunjukkan tokoh luar Jawa bisa saja jadi presiden, tapi faktor itu sangat mudah dimainkan lawan sebagai senjata kampanye.

Sementara itu, hasil survei Lembaga Riset Informasi (LRI) menunjukkan tingkat popularitas SBY turun sembilan persen pada Mei 2008. Jika Desember 2007 persentase dukungan masyarakat terhadap SBY masih mencapai 44 persen, pada Mei 2008 turun menjadi 35,60 persen. Menurut Presiden LRI, Johan O Silalahi, turunnya popularitas SBY, tak bisa dilepaskan dari keputusan menaikkan harga BBM.

Namun survei LRI ini masih menempatkan popularitas SBY di posisi teratas. Posisi kedua ditempati Megawati Soekarnoputri 25,51 persen, naik dari survei sebelumnya yang kurang dari 20 persen. Sultan Hamengkubuwono X di urutan ketiga 17,61 persen. Menurut Johan, saat memaparkan hasil survei LRI, Kamis (29/5), Survei LRI menggunakan metode penarikan sampel multi stage random sampling, yaitu pengambilan sampel melalui beberapa tahapan, sampel sebanyak 1.537 responden ditarik dari seluruh WNI yang memiliki hak pilih dalam pemilu di 33 provinsi di seluruh Indonesia pada pertengahan Mei 2008.

Survei LRI juga merekam kriteria pemimpin yang diinginkan rakyat. Kejujuran menempati urutan teratas (84 persen), ketegasan (71 persen), dapat dipercaya (62 persen), konsisten (44 persen), dan mempunyai integritas (28 persen).

Jika belajar dari hasil-hasil survey menjelang Pilpres 2004, yang kala itu popularitas Megawati masih mencapai 58 persen, sedangkan para penantangnya berada di bawahnya, termasuk SBY hanya 10 persen. Tapi suatu situasi bisa mengubah kenyataan pada Pilpres yang akhirnya dimenangkan SBY.

Namun dari catatan berbagai hasil survei tersebut, peluang SBY untuk memenangkan Pilpres 2009 mendatang masih lebih besar dibanding tokoh-tokoh lainnya. Namun, perkembangan politik yang makin dinamis dan meningkat dalam beberapa bulan ke depan, memungkinkan berbagai hal bisa terjadi. Siapa tahu, keberhasilan Obama di Pilpres Amerika Serikat yang akan berpuncak November 2008 mendatang, juga akan menginspirasi rakyat dan para pemimpin di Indonesia untuk memilih seorang pemimpin baru, Obama ala Indonesia.

Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif Lembaga Riset Indonesia (LRI) Johan Silalahi, hasil survei LRI juga menempatkan sejumlah nama yang berprospek sebagai Cawapres, yaitu Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto (7,09 persen), Din Syamsuddin (6,93 persen), Akbar Tandjung (4,48 persen), dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso (3,75 persen). ► mti

Comments

  1. Panji Gumilang itu pemimpin yang kuat, cerdas, cermat, bijak, kaya ide dan piawai mengimplementasikan ide-ide besarnya, taat nilai dan azas (nilai-nilai dasar negara dan konstitusi), cinta damai, menghargai pluralisme (interdependensi) dan beriman.

    Masak sih. Pesantren Az Zaitun miliknya sangat kontroversial. Dia adalah pimpinan NII KW IX. Coba baca keterangan berbagai informasi mengenai sepak terjangnya dan kelompok yang merasa tertipu karena anak mereka yang nyantri di Az Zaitun. Al Chaidar, salah seorang mantan NII mengungkapkan dengan rinci siapa AS Panji Gumilang

    ReplyDelete
  2. Halo Lukman, trima kasih sudah berkunjung :)

    Oh, ya saya baca bukunya Al-Chaidar. Saya juga baca majalah bulanan Al-Zaytun dan majalah Berita Indonesia yang memuat pemikiran-pemikiran Syaykh Panji Gumilang.

    Saya pikir pemikiran dan karakter beliau luar biasa. Persis seperti yang ditulis oleh Ch Robin Simanullang dalam artikel di atas. (Ch Robin Simanullang mewawancara Syaykh langsung).

    Saya juga kenal dengan beberapa alumni Al-Zaytun dan mereka bilang Al-Zaytun positif-positif saja, tidak seperti isu kontroversi yang ada.

    Ada komentarPak Jusuf Kalla juga, klik di sini

    ReplyDelete
  3. Klo diliat dari Aura...Kelugasan berbicara...ketegasan hasil yg sdh "beliau" wujudkan...kayanya yg fotonya diatas MEGA pantes deh jadi presiden....Amin

    ReplyDelete
  4. Lukman Sa'ad...sdh pernah datang ke Az-Zaytun???coba datang dahulu...baru berkomentar...Tq

    ReplyDelete
  5. Hehe... makaci ya jelek udah baca2 & tulis2 di sini...

    miss u

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.