Skip to main content

Satu Menit Pencerahan, Satu Menit Kearifan

Ensiklopedi Nurcholish Madjid


"Luar Biasa. Sebuah karya yang bisa disejajarkan dengan karya Ibnu Rushd tatkala menulis filsafat Aristoteles." Demikianlah komentar M Dawam Rahardjo dalam peluncuran buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid karya Budhy Munawar-Rachman.

Sepintas, komentar tersebut terkesan berlebih-lebihan. Akan tetapi, bilamana membacanya dengan teliti dan cermat, akan ditemukan kemiripan dengan beberapa karya Ibnu Rushd. Jika Aristoteles merupakan tokoh paling berpengaruh di Eropa dan Barat pada umumnya, Nurcholish Madjid merupakan salah satu pemikir Muslim terkemuka yang dimiliki bangsa ini.


Karena itu, menulis dan menyusun pemikiran-pemikiran Cak Nur—panggilan akrab Prof Dr Nurcholish Madjid—yang dilakukan Budhy Munawar-Rachman merupakan sebuah karya yang dulu pernah dirintis Ibnu Rushd untuk memperkenalkan pemikiran Aristoteles di dunia Islam, bahkan disebut-sebut telah mengantarkan pencerahan di Eropa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai dan melestarikan karya para pendahulunya. Pandangan seperti itu terbukti sangat ampuh dan menemukan momentumnya. Di lingkungan Muslim sendiri, langkah seperti ini sudah dicontohkan oleh sejumlah pemikir Muslim.

Ibnu Tufail, misalnya, melanjutkan pemikiran Ibnu Bajah. Ibnu Rushd melanjutkan pemikiran Ibnu Tufail dan Ibnu Bajah. Ibn ’Arabi melanjutkan pemikiran Ibnu Rushd. Al-Kindi melanjutkan pemikiran Al-Farabi. Ibnu Sina melanjutkan pemikiran Al-Kindi, dan seterusnya. Begitulah. Sebuah pemikiran menyerupai sebuah mata rantai yang tidak pernah terputus. Antara masa lalu, masa kini, dan masa datang merupakan sebuah pendulum rantai roda yang tidak pernah berhenti.

Kesan tersebut sejak semula bisa didapatkan pembaca dari kulit depan buku yang amat menarik ini. Hidup ibarat perputaran jam yang tidak pernah berhenti. Selama dunia ini masih ada, yang akan terjadi adalah perputaran dan pergantian dari yang lalu, kini, dan mendatang. Pada saat inilah menghargai tradisi dan pemikiran besar dari seorang tokoh yang spektakuler, seperti Cak Nur, menjadi penting.


Dokumentasi pemikiran


Buku ini secara khusus disebut dengan ensiklopedi karena dikemas dalam bentuk entri-entri sehingga pembaca dapat memahami pemikiran-pemikiran Cak Nur secara mudah, cepat, dan padat. Di samping itu, alasan penulis buku ini dengan menggunakan istilah ensiklopedi karena pemikiran-pemikiran Cak Nur sendiri memang bersifat "ensiklopedis", meliputi banyak isu dan sangat komprehensif, sehingga buku ini dapat menjadi dokumentasi pemikiran Cak Nur terlengkap.

Menurut Budhy, buku ini merupakan cerminan dari garis-garis besar pemikiran Cak Nur, yaitu Islam yang terbuka, toleran, dan penuh keramahan (halaman xxvii-xxviii).

Salah satu contoh yang paling khas dari pemikiran Cak Nur adalah memahami Islam dari sudut pandang keindonesiaan, kemodernan, dan kerakyatan. Pemahaman seperti ini akan memiliki konsekuensi yang amat berbeda jika dibandingkan dengan memahami keislaman hanya menggunakan pendekatan formalistik.

Pandangan keagamaan formalistik tidak akan mempunyai dampak yang luas bagi terwujudnya kemaslahatan manusia. Pandangan keagamaan seperti itu hanya membawa maslahat bagi penafsir, yang mempunyai keahlian dalam memahami, tetapi tidak mempunyai dampak luas kepada umat.

Dalam hal ini bisa dilihat dari sebuah diktum "kembali kepada Al Quran dan Sunah". Hampir seluruh umat Muslim meyakini diktum tersebut sebagai sebuah keniscayaan teologis. Tapi, secara sosiologis, diktum tersebut bisa membawa dampak yang berbeda-beda. Ada yang memahaminya sebagai ideologi eksklusivisme, tetapi pihak lain ada yang memahami sebagai elan inklusivisme.

Dalam masalah tersebut, Cak Nur telah melahirkan sebuah penafsiran yang mempunyai relevansi dalam konteks kebangsaan dan keragaman. Al Quran dan Sunah merupakan sumber inklusivisme. Misalnya, dalam memahami al-Islâm. Selama ini, pelbagai kalangan Muslim memahami Islam secara eksklusif. Namun, Cak Nur merujuk pada ayat-ayat Al Quran, bahwa makna yang lebih tepat tentang al-Islâm adalah agama yang dibawa oleh para nabi terdahulu, dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad SAW.

Inti dari Islâm adalah ajaran tentang toleransi dan kelapangdadaan (al-hanîfiyyah al-samhah). Seorang suami harus menghargai istrinya. Seorang Muslim harus merahmati non-Muslim. Seorang yang kaya harus membantu yang miskin.

Dalam hal seorang suami menghargai sang istri, Rasulullah SAW berpesan kepada salah seorang sahabatnya, Utsman ibn Mazh’un. Sahabat Nabi tersebut dikenal sebagai ahli ibadah, yang hidupnya dihabiskan untuk berpuasa dan beribadah sampai larut malam, hingga istrinya ditelantarkan.

Rasulullah SAW langsung menegur Utsman ibn Mazh’un sembari berkata, "Jangan kau lakukan! Sesungguhnya matamu punya hak atas engkau, dan keluargamu punya hak atas engkau! Maka shalatlah dan tidurlah, puasalah dan makanlah!" (halaman 145). Sedangkan dalam hal merahmati non-Muslim, Cak Nur memandang bahwa Islam pada hakikatnya adalah agama universal. Artinya, Islam bisa dibawa ke mana-mana dan dari mana-mana bisa dibawa ke Islam (halaman 79).



Pengaruh luas


Beberapa pemikiran Cak Nur di atas telah memberikan dampak dan pengaruh yang amat luas. Pemikirannya tidak hanya menciptakan revolusi pemikiran di kalangan Muslim, tetapi juga di kalangan non-Muslim.

Di bawah payung Islam, masyarakat Indonesia yang plural tidak perlu merasa terancam oleh adanya pemahaman fundamentalistik dan radikalistik sebab Islam pada hakikatnya adalah agama yang merahmati seluruh isi alam (rahmatan li al-'alamîn). Kendatipun banyak pihak yang mencoba melahirkan fatwa keagamaan yang bertentangan dengan semangat universalitas Islam, fatwa tersebut dengan sendirinya terbantahkan.

Keistimewaan lain dari buku ini, penulis mengemas buku ini dalam entri-entri yang mudah dipahami dan cepat dibaca sehingga dalam satu menit pembaca dapat merasakan embusan angin pencerahan untuk mendapatkan kearifan. Dengan demikian, dengan satu menit membaca buku ini, pembaca mendapatkan dua keuntungan sekaligus: pencerahan dan kearifan. One minute enlightment, one minute wisdom.

(Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda NU)



= = =
Untuk info pemesanan ensiklopedi ini dapat menghubungi:
(021) 935 405 15
0815 8577 2257
rina.nazrina@gmail.com

= = =


Links:
Nurcholish Madjid: Sebuah Otobiografi Intelektual

Al-Zaytun: Ensiklopedi Nurcholish Madjid
Ensiklopedi One Minute Enlightment

Menyambut Ensiklopedi Nurcholish Madjid

Kritik terhadap Ensiklopedi Nurcholish Madjid

Islam Terbuka versi Nurcholish Madjid

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.