Skip to main content

Shalat di Pura Langgar


Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)

Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar


lintangbuanatours.com

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tak sulit mencari Pura Langgar atau yang juga dikenal dengan istilah Pura Dalem Jawa. Lokasinya berada persis di tepi jalan raya Gianyar-Bangli. Hampir setiap tahunnya Pura Langgar ramai dikunjungi wisatawan domestik yang kebanyakan berasal dari daerah Jawa Timur. Yang paling menarik tentu saja karena Pura Langgar menjadi satu-satunya pura di Bali yang juga bisa dimanfaatkan untuk tempat shalat bagi umat Islam.

wisatadewata.com

Sebagai pura yang terkenal, tak sulit mencari tahu latar belakang berdirinya pura bersejarah tersebut. Beberapa waktu lalu koran ini menemui pemangku atau juru kunci Pura Langgar, yakni AA Biang Mangku. Wanita paruh baya ini sudah belasan tahun mengurusi Pura Langgar dan mengikuti segala aturan yang telah turun-temurun dipercaya.

"Salah satu aturan yang saya sendiri lakukan saya tidak pernah makan daging babi, karena di sini saya sebagai pemangku pura," ucap Biang Mangku.

Dia mengisahkan, Pura Langgar ini kali pertama didirikan oleh Raja Bunutin bergelar Wong Agung Wilis, sekitar abad ke-16 silam.

Sempat Ditolak Keluarga Raja

Kala itu, sang raja membangun merajan agung (tempat sembahyang), di mana puranya dikelilingi taman air. Kala itu, pewaris sang raja, yakni Ida I Dewa Mas Blambangan mengalami sakit keras yang aneh. Tak ada satu pun warga maupun tabib yang didatangkan mampu mengobati penyakit si pewaris kerajaan.

"Dari hasil pertapaan, raja mendapat bisikan berupa perintah untuk membangun pelinggih berbentuk langgar," terang Biang Mangku.

Awalnya, rencana membangun pelinggih berbentuk langgar ini ditolak keras saudara-saudara raja. Namun karena Raja Wong Agung Wilis yakin dengan bisikan tersebut, akhirnya dia tetap membangun pelinggih berbentuk langgar.

"Karena menolak, banyak saudaranya yang pergi meninggalkan Bunutin, tapi lama kelamaan kembali lagi setelah mengerti," kenang Biang Mangku.

blog.baliwww.com

Yang menarik, setelah membangun pelinggih berbentuk langgar layaknya musala-musala di Jawa, penyakit Ida I Dewa Blambangan sembuh. Raja Bunutin pun meyakini bahwa pelinggih berbentuk langgar tersebut sebagai penyembuh penyakit pewarisnya. "Sejak saat itu semua warga semakin menghormati pelinggih pura ini, dan memang secara historis Raja Bunutin punya hubungan kuat dengan Blambangan di Jawa," tutur Biang Mangku.

Kendati pelinggih tersebut berbentuk langgar atau musala, lengkap dengan empat pintu khas musala di Jawa, lanjut Biang Mangku, pelinggih tersebut tetap digunakan sebagai gedong untuk keperluan persembahyangan umat Hindu. "Cuma bentuknya saja dibuat sama persis dengan musala, tapi penggunaannya tetap untuk keperluan sembahyang Hindu," jelasnya.

Namun karena jasa pelinggih langgar tersebut, Pura Langgar pun dijadikan tempat untuk melaksanakan shalat bagi umat Islam kala itu. Dan hingga kini, kepercayaan masyarakat setempat untuk menghormati leluhur terus dilakukan. Yakni menjadikan Pura Dalem Jawa atau Pura Langgar sebagai tempat untuk shalat bagi umat Islam yang berkunjung. "Di sini disediakan tempat wudhu dan tempat khusus buat shalat," sebut Biang Mangku.

infopublik.kominfo.go.id

Tempat yang selalu digunakan untuk tempat shalat bagi umat Islam yang berkunjung yakni bale pengrausan atau bale paruman (bale pertemuan). Sehari-hari, bale tersebut dimanfaatkan sebagai tempat paruman (rapat) umat Hindu. Tapi kalau ada pengunjung yang ingin shalat, bale tersebut disulap jadi tempat shalat. "Kami sediakan karpet yang sewaktu-waktu bisa dipakai buat slaat," sambungnya.

"Kalau pengunjungnya banyak mereka juga kita persilakan shalat di depan langgar, tapi kalau di dalam langgar tidak boleh," tambah Biang Mangku.


Baca juga:

Pura Tanpa Daging Babi

Comments

  1. Saya juga tertarik dengan keberadaan pura langgar. Kebetulan saya sedang melakukan tugas karya ilmiah tentang kunjungan wisatawan di pura langgar. Bila berkenan, saya akan mengirim kuisioner ke email anda. Mohon balasannya. Terimakasih

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.