Skip to main content

Buanglah Kecuekan Anda pada Tempatnya

Pelataran parkir Fakultas Hukum UI itu tampak sepi, hanya ada beberapa mahasiswa sedang duduk berkelompok sambil mengobrol entah apa. Mereka duduk di bangku panjang yang disediakan di pinggiran taman. Rumput yang hijau segar dan deretan pot bunga serta tanaman hias mempercantik lingkungan sekeliling. Kesan bersih pun menyeruak di setiap sudut sehingga menunjang kenyamanan para penghuni untuk betah berlama-lama di kampus.

Satu hal yang mencolok yang pasti mengambil peran besar dalam menciptakan lingkungan asri tersebut yaitu deretan tong-tong sampah berwarna-warni di berbagai lokasi serta kalimat provokatif yang dipajang persis di atas setiap tong. Salah satunya adalah tulisan: “Buanglah Kecuekan Anda pada Tempatnya”. Rupanya telah digalakkan kampanye kecil yang efektif bagi para civitas untuk bersama-sama menjaga kebersihan di fakultas yang menelurkan ahli hukum Indonesia tersebut. Tak sekadar anjuran “jangan buang sampah sembarangan” yang diusung dalam kampanye ini. Tetapi juga “pilah sampah yang dibuang menurut jenisnya”. Karena itu yang disediakan tak cuma satu tong sampah di setiap tempat, tetapi tiga tong, berderet. Masing-masing untuk sampah basah (organik), sampah kering (anorganik), dan sampah beling seperti botol atau pecahan kaca.

Persoalan sampah di Indonesia selama ini sudah cukup traumatis. Mengingat berbagai kasus yang telah meresahkan masyarakat seperti timbunan sampah di TPA yang sampai menelan korban jiwa, serta berbagai amukan massa yang protes kepada pemerintah lantaran sampah yang menggunung di sekitar rumah mereka telah menyebabkan berbagai penyakit seperti ISPA, TBC, penyakit kulit atau gatal-gatal dan diare. Belum lagi bau tak sedap yang sangat mengganggu, dan lingkungan kotor yang benar-benar tak bisa lagi ditolerir. Musibah banjir di ibukota pun menjadi semakin parah dengan tumpukan sampah di selokan dan sungai.

Tentu tak bijak jika melimpahkan semua tanggung jawab kepada pemerintah. Maka sembari menunggu putusan hukum yang tegas mengenai pengelolaan sampah di negeri ini, masyarakat dapat ikut berbuat sesuatu yang berguna, paling tidak untuk membiasakan diri dan keluarga agar peduli terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Hal yang utama untuk dilakukan adalah, jangan malas berjalan ke tempat sampah di manapun Anda berada. Bahkan di mal megah di Jakarta ini masih saja terlihat sampah plastik teronggok di lantai kolong meja. Atau sering juga terlihat tangan terulur dari balik kaca jendela mobil mewah yang melempar bungkus makanan di jalan raya. Di taman kota yang seharusnya indah juga malah tampak kumuh dan jorok akibat sampah bertebaran di mana-mana. Parahnya lagi kalau ternyata tak satu pun tong sampah disediakan di taman kota tersebut. Itu berarti kita harus rela menyimpan sampah sampai akhirnya menemui tempat untuk membuangnya.

Ada langkah pencegahan yang baik untuk diterapkan yaitu sebisanya mengurangi jumlah sampah yang kita hasikan sehari-hari. Di luar negeri seperti Kanada, Belanda, dan India masyarakatnya telah mulai membiasakan zero garbage lunch , yaitu menempatkan bekal makanan dalam kotak semacam rantang yang bisa dicuci dan dipakai lagi berulang kali. Dengan demikian tidak perlu menyisakan bungkus plastik atau styrofoam yang sampahnya nantinya menyulitkan karena tidak bisa didegradasi secara alami. Demikian pula ketika berbelanja di supermarket, mereka lebih suka membawa kantong sendiri dari rumah untuk menampung barang belanjaan . Di San Fransisko, AS, bahkan ditetapkan larangan pemakaian plastik sebagai kantong pembungkus di toko maupun di pasar.

Di rumah sendiri, kita bisa mulai dengan menyediakan lebih dari satu tong sampah untuk memilah mana sampah organik seperti sampah dapur atau daun-daunan, dan mana yang anorganik seperti plastik, kaleng, dan kertas. Jangan lupa tempatkan pecahan gelas, piring, botol bekas kosmetik, lampu neon dan sejenisnya di tempat sampah khusus. Hal ini meskipun tampak sepele namun merupakan hal yang sangat membantu para petugas sampah yang senantiasa berjasa mengangkut sampah di depan rumah kita.

Tak terbayangan betapa beratnya mereka bekerja dari pagi buta hingga sore bergumul dengan sampah yang kotor dan bau, apalagi di musim hujan, kemudian masih juga beresiko terluka akibat pecahan beling yang dibuang bercampur dengan sampah yang lain. Padahal gaji mereka sebulan yang hanya beberapa ratus ribu pasti tak cukup untuk membiayai biaya rumah sakit kalau sampai lukanya infeksi dan menjadi parah.

Memang belum ada undang-undang yang komprehensif tentang pengelolaan sampah di negeri kita ini. Kita tidak akan didenda jika melempar plastik gorengan dari jendela bus dan tidak akan kena sanksi kalau membuang sampah kering di tempat sampah basah. Tapi bolehlah kita ingat-ingat lagi semboyan yang ditanamkan sejak kecil dulu bahwa bersih itu pangkal sehat. Dan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Yah , mudah-mudahan bisa menyadarkan kita lagi agar jangan cuek soal sampah. ■

* Dimuat di Tabloid Parle (Mei 2007)

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.