Skip to main content

Jalan Kaki Banyak Untungnya

Kesibukan sering kali menjadi alasan mengapa kita tidak sempat berolahraga secara teratur. Rasanya begitu repot harus menyediakan waktu ke tempat fitness , bowling , swimming pool atau mengajak teman bermain tenis atau bola voli. Sebenarnya ada satu kegiatan olahraga sederhana yang dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja tanpa pandang usia, yaitu berjalan kaki. Olahraga ini selain mudah dilakukan, juga murah dan tidak memerlukan alat khusus. “ Walking is man's best medicine ,” ujar Hippocrates.

Betapa baiknya jalan kaki untuk kesehatan sehingga Hendrawan Nadesul (Kompas, 09/12/05) menyebutkan ada sedikitnya sembilan penyakit yang dapat dicegah dengan olahraga berjalan kaki. Di antaranya penyakit jantung, stroke , osteoporosis, diabetes, kanker usus besar (colorectal carcinoma), kanker payudara, dan encok lutut (osteoarthiris).

Telah dilakukan sebuah penelitian di Honolulu, AS (1998) yang melibatkan 8.000 orang yang berusia di atas 12 tahun. Saat itu ditemukan bahwa orang yang berjalan kaki secara rutin dua mil per hari, risiko terkena penyakitnya 2,5 kali lebih kecil dibandingkan dengan orang yang jarang berolahraga jalan kaki. Terutama untuk risiko penyakit kanker. Jadi jelas bahwa jalan kaki ikut andil membuat orang bisa panjang umur.

Untuk para pria, jalan kaki setiap hari bisa menurunkan risiko impotensi karena pergerakan tubuh pada saat berjalan akan memperlancar peredaran darah, dan ini berakibat baik bagi organ seksual. Penelitian yang dilakukan di Boston University School of Medicine (2000) menemukan bahwa berjalan kaki cepat dua mil per hari bisa menurunkan risiko disfungsi seksual pada pria. Sementara dengan usaha berhenti merokok atau dengan tidak mengonsumsi alkohol saja tidak dapat menurunkan risiko impotensi tersebut.

Bagi anda yang ingin diet, jalan kaki juga dapat menstabilkan berat badan atau menurunkannya. Jalan kaki selama 30 menit jika dilakukan dengan cara yang benar akan dapat membakar sekitar 200 kalori. Asalkan jangan sampai setelah olahraga anda lalu makan gorengan . Sepotong tahu goreng mengandung sekitar 75 kalori. Jadi kalau sampai makan empat potong tahu goreng, bisa dipastikan usaha diet akan sia-sia.

Diet dengan jalan kaki (walking diet), akan jauh lebih sehat dan praktis dibandingkan dengan menghilangkan lemak dengan cara suntikan atau sedot lemak. Berdasarkan penelitian, mengurangi porsi makan pun tidak cukup baik untuk diet yang sehat. Karena dengan mengurangi jumlah makanan, selain jaringan lemak berkurang, jaringan tulang, otot, dan jaringan yang lain juga akan berkurang. Dengan demikian tubuh akan kelihatan kendur. Maka olahraga adalah cara terbaik untuk menjaga penampilan tubuh tetap kencang.

Selain bermanfaat bagi kesehatan jasmani, jalan kaki juga memberi manfaat yang besar bagi kesehatan jiwa. Dalam The Complete Book of Walking, Mark Fenton menyatakan bahwa meskipun yang kita inginkan adalah membakar kalori dan memperkuat tulang, namun ingatlah bahwa keuntungan terbesar dari berjalan kaki sebenarnya terletak pada pikiran dan jiwa.

Berjalan kaki rupanya juga dapat menghilangkan stress dan mengurangi depresi. Menurut para ahli, berjalan kaki selama 15 menit dapat mengurangi ketegangan syaraf lebih efektif daripada obat penenang dengan dosis standar. Jadi ketika anda merasa letih karena terus-menerus bekerja di depan komputer, luangkan waktu untuk berjalan-jalan di sekitar taman kantor.

Sadoso Sumosardjuno dalam bukunya Pengetahuan Praktis dalam Olahraga (1990) menjelaskan bahwa stress pada suatu sistem akan menyebabkan sistem yang lain menjadi rileks. Jadi menghilangkan stress dengan berjalan-jalan menggerakkan tubuh sambil melihat-lihat pemandangan, akan lebih baik dibanding dengan hanya duduk beristirahat di sofa.

Dengan semua keuntungan tersebut di atas, luangkanlah waktu untuk berjalan kaki. Bagi para pekerja kantoran, jangan menggunakan kendaraan pada saat keluar dari kantor untuk makan siang.

Atau kalau ingin pergi ke toilet pilihlah toilet terjauh sehingga sempat mengayunkan kaki lebih lama di antara ruwetnya pikiran akan pekerjaan. Atau bagi anda pengguna busway , cobalah turun di satu halte sebelumnya, lalu berjalanlah ke tempat tujuan. Atau jika cara di atas juga tidak mungkin dilakukan, anda masih punya waktu di malam hari sebelum tidur. Matikan televisi, dan berjalanlah bolak-balik di sekeliling rumah. Gerakkan lengan dan kaki sambil menarik nafas dalam-dalam berulang kali selama beberapa menit sebelum tidur. Dijamin, tidur akan terasa lebih nyenyak dan pasti ketika bangun keesokan paginya badan menjadi lebih segar. Selamat menikmati jalan kaki!

*Dimuat di Tabloid Parle (Mei 2007)

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.