Skip to main content

Masalah Sampah, Bom Waktu

KONON, kemajuan suatu daerah atau negara dapat diukur dari kondisi sampah di lingkungannya. Jika terlihat banyak sampah yang terserak di jalan-jalan, maka daerah/negara tersebut terbelakang dengan sistem pengelolaan sampah yang buruk. Tercermin dari warganya yang masih membuang sampah sembarangan, yang berarti tidak ada sistem yang bagus untuk mencegah hal tersebut.

Jika sampahnya tertumpuk rapi dan penuh di tempatnya, tidak lagi di jalan-jalan, maka berarti negara tersebut sudah tergolong negara berkembang. Karena sudah bisa mengkondisikan masyarakat untuk dengan disiplin membuang sampah pada tong-tong sampah yang tersedia.

Jika sampah sudah hampir tak tampak di mana-mana, tong-tong sampah tampak selalu kosong dan lingkungan pun bersih, inilah indikator bahwa daerah/negara tersebut maju. Sistem pengelolaan sampah sudah sangat baik, sehingga warga dan juga para petugas pengangkut sampah sudah sama-sama berdisiplin soal sampah. Ada waktu-waktu pengangkutan sampah setiap harinya yang sudah disepakati bersama, dan pemerintah pun sudah memiliki sistem pemusnahan maupun daur ulang sampah yang bagus.

Bali, sebagai daerah yang tingkat kepadatan penduduknya masih belum sesak, dengan tingkat koordinasi dan komunikasi antara pemerintah dan warganya terbilang cukup baik, memiliki harapan yang besar untuk dapat memelopori Indonesia dalam usaha pengelolaan sampah yang benar dan tepat.

Saat ini persoalan sampah di Bali ibarat bom waktu. Setiap harinya produksi sampah di pulau ini
rata-rata berjumlah 5.000 ton dan bertambah 5% setiap tahunnya (Bali Post, 27/9). Hal ini sangat mengkhawatirkan karena Bali sejak dulu tidak hanya menjadi primadona pariwisata di negeri sendiri, tetapi juga menjadi primadona dunia. Tumpukan sampah tentunya tak dapat dibiarkan karena dapat menurunkan pencitraan Bali.

Di bidang kesehatan pun tak kalah mengancamnya. Pengelolaan sampah yang buruk lama-lama dapat menyebabkan berbagai penyakit, dan tumpukan sampah di sungai sewaktu-waktu dapat menimbulkan banjir maupun bencana lain.

Upaya yang dapat dilakukan, mengacu pada slogan yang berlaku umum, yaitu 3R: reduce (mengurangi), reuse (pemakaian kembali), dan recycle (daur ulang). Program 3R ini hanya dapat terwujud dengan baik jika disadari sebagai tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat. Ini berarti pembiasaan dan pendisiplinan untuk membereskan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga. Masyarakat bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah di lingkungan mereka sendiri. Tak hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mengolah habis sampah hingga tuntas.

Pengolahan sampah ini dimulai dengan memilah-milah sampah menurut jenisnya, organik atau non organik. Sebuah LSM di Jakarta telah mengembangkan alat yang praktis dan murah dapat digunakan bahkan di tingkat rumah tangga untuk pengubahan sampah organik menjadi kompos dan pupuk cair. Hasilnya dapat digunakan untuk pertanian ataupun pertamanan dan juga dapat dijual. Sedangkan sampah non-organik didaur ulang menjadi plastik, kertas dan kardus yang juga memiliki nilai jual. Jadi selain lingkungan menjadi bersih, masyarakat pun dapat memperoleh penghasilan tambahan, hanya dari sampah.

San Fransisco, AS, telah menerapkan larangan penggunaan kantong plastik di toko maupun di pasar. Sedangkan di Bali, dapat kita lihat bahwa penggunaan kantong plastik masih sangat boros. Pemda Bali mungkin dapat menetapkan aturan pembatasan kantong plastik demi mewujudkan manajemen sampah yang baik dan berkelanjutan.

Di sekolah-sekolah pun penting menerapkan pendidikan mengenai sampah. Di beberapa negara telah umum dibiasakan zero garbage lunch; yaitu anak sekolah membawa kotak bekal makanan yang dapat berulangkali dipakai, sehingga tidak menyisakan sampah. Beberapa restoran cepat saji pun memberikan potongan harga bagi pembeli yang membawa tempat makan atau minum sendiri.

Aturan baku mengenai pengelolaan sampah dari tingkat Pemda mendesak untuk ditetapkan. Karena masyarakat berpayung kepada aturan-aturan tersebut untuk dapat bersama-sama pemerintah mewujudkan Bali yang bersih, nyaman dan bebas dari gangguan dan ancaman masalah sampah.

Tulisan ini dimuat di Harian Bali Post (29 September 2007)

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.