Skip to main content

Vegetarian, Mengapa Tidak?

Kesehatan yang prima tentu didambakan semua orang, tapi tidak semua orang benar-benar konsisten menjalani gaya hidup sehat.

Vegetarianisme merupakan salah satu pilihan gaya hidup sehat yang populer dianut masyarakat di berbagai kalangan. Sebut saja pelukis Leonardo Da Vinci, ilmuwan Isaac Newton, Charles Darwin, artis Paul McCartney, Drew Barrymore, dan di Indonesia juga ada Dewi ‘Dee' Lestari, aktor Sandy Nayoan dan banyak lagi. Bagaimana sebenarnya menjadi vegetarian dan apa keuntungan yang diperoleh jika kita menganut Vegetarianisme?

Vegetarian adalah sebutan bagi orang yang tidak mengonsumsi produk hewani, jadi membatasi diri hanya dengan mengonsumsi produk nabati. Pada dasarnya vegetarian menolak makan daging dan ikan, tetapi untuk produk hewani yang lain tidak semuanya ditolak.

Kaum vegetarian umumnya terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu pertama , Lacto-Ovo-Vegetarian, ialah mereka yang tetap memakan telur, susu dan madu. Kedua , Lacto Vegetarian yaitu mereka yang tidak makan telur, tetapi minum madu dan susu. Ketiga , Ovo Vegetarian yang tidak mau mengonsumsi susu, tapi menerima produk turunan lainnya. Dan yang keempat , ialah Vegan, yaitu kaum yang menolak keras semua produk hewani dan olahannya. Bahkan termasuk pakaian, sepatu, tas, dan pernak-pernik yang dihasilkan dari kulit binatang.

Jadi selain hanya mendatangi restoran vegetarian, para Vegan juga hanya berbelanja di toko pakaian vegetarian. Di Amerika Serikat dan Eropa terdapat beberapa toko pakaian yang berlabel vegetarian. Bagi kita di Indonesia, toko semacam ini dapat dikunjungi online via internet.

Terdapat berbagai alasan mengapa orang memilih untuk hidup dengan melulu makan sayuran dan kacang-kacangan. Ada alasan agama seperti Hindu, Buddha, dan Yahudi yang mempunyai aturan yang melarang umatnya makan daging. Ada pula alasan etika, yaitu bahwa sebagai sesama makhluk hidup tidak selayaknya manusia menyakiti dan membunuh hewan untuk dimakan atau dijadikan bahan tekstil.

Para aktivis lingkungan juga menganggap vegetarian merupakan salah satu solusi pencegahan kerusakan hutan tropis, naiknya panas Bumi, pemborosan sumber energi, dan kelaparan dunia.

Apa pasal? Sebagai contoh, di Amerika Latin ada sekitar 25% hutan tropis dibabat untuk membuat lahan peternakan sapi. Memelihara sapi juga menjadi penyebab terciptanya gas yang dapat menaikkan panas Bumi, polusi serta pemborosan air. Seandainya lahan dan air tersebut digunakan untuk menanam gandum atau tomat, maka hitungannya akan lebih efisien. Makanan yang dihasilkan pun berkali lipat lebih banyak dibandingkan daging sapi, sehingga kelaparan dunia dapat diatasi. Begitulah kira-kira.

Alasan kesehatan tentu menjadi alasan utama. Kata vegetarian berasal dari bahasa Latin, vegetus , yang artinya sehat, segar, hidup. Para vegetarian meyakini bahwa ada banyak penyakit yang dapat ditimbulkan jika manusia mengonsumsi produk dari hewan. Apalagi jika hewan tersebut semasa hidupnya juga sudah berpenyakit. Risiko yang dapat ditimbulkan antara lain kanker, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, batu ginjal, obesitas, dan osteoporosis.

Diet a la vegetarian juga dapat mengurangi lemak, kolesterol, dan protein hewan. Sehingga menurut para pakar gizi, jika orang menjadi vegetarian, setidaknya ia tak perlu takut kematiannya disebabkan oleh makanan yang dikonsumsinya. Efeknya secara psikologis orang yang vegetarian juga dapat hidup lebih bahagia, tenang, tidak gampang emosi, dan lebih segar.

Menjadi vegetarian bukanlah merupakan keharusan. Namun jika mengingat kata-kata filsuf Yunani Kuno, Aristoteles (384-322 SM), ” Don't let your medicine be your food. Let your food be your medicine ,” ada baiknya juga kita menjaga pilihan makanan kita. Agar di masa tua nanti tetap bugar dan selalu tersenyum.


* Dimuat di Tabloid Parle (April 2007)

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.