Skip to main content

Lost in Translations

Sekilas Pandang
Ubud Writers & Readers Festival 2007

Tak ada penerjemahan yang benar-benar cocok makna dengan bahasa aslinya. Selalu akan ada gap, atau sesuatu yang hilang dalam teks. Misalnya kata ‘good morning’ dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan ‘selamat pagi’ dalam bahasa Indonesia. Padahal, kata ‘good’ tidak sama artinya dengan ‘selamat’. Dan kata ‘morning’ juga tidak semakna dengan ‘pagi’.

Demikian ujar John H. McGlynn, seorang penerjemah dan Direktur Penerbitan Yayasan Lontar, yang telah lama menetap di Indonesia. Ia duduk bersama tiga pembicara lintas negara dalam sebuah sesi acara diskusi sebagai rangkaian acara dari Ubud Writers & Readers Festival yang dihelat pada 26-30 September 2007 di Ubud, Bali. Sesi ini membahas masalah-masalah dan dilema dalam penerjemahan suatu karya, sedang dialog acara ini sendiri sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris yang semoga saja tidak banyak menghasilkan ‘lost in translations’ bagi pendengar yang berbahasa lain.




Bahasa Inggris memang mendominasi percakapan dalam acara utama di festival internasional yang menampilkan lebih dari 80 penulis dari 18 negara ini. Hanya beberapa pembicara yang menggunakan bahasa berbeda, antara lain Cok Sawitri dengan bahasa Bali-nya, I Gusti Ngurah Harta dengan bahasa Indonesia, dan Lee Hye-Kyung yang mengikutsertakan penerjemahnya lantaran tak ada hadirin yang mengerti bahasa Korea. Penggunaan bahasa Inggris ini tak menjadi masalah karena sebagian besar yang hadir adalah pengunjung asing dan ekspatriat.

Sedang misi yang diemban oleh Yayasan Seni Saraswati sebagai penyelenggara acara ini adalah selain mempromosikan kekayaan dan keuletan komunitas setempat, juga membantu kaum muda Indonesia untuk mengembangkan potensi mereka melalui program-program pendidikan dan sastra. Dengan tujuan ini maka panitia pun memberlakukan kebijakan variasi harga tiket yang relatif terjangkau bagi pengunjung lokal, dan beberapa acara untuk masyarakat setempat juga digelar gratis.

Bertempat di berbagai lokasi di Ubud, antara lain di Indus Restaurant, Taman Indrakila, Museum ARMA, Ananda Cottages, Casa Luna, Sofitel Seminyak, Gaya Fusion Gallery, Three Monkeys Cafe, dan lain-lain, festival ini tak hanya menggelar diskusi. Ada juga lokakarya penulisan, lokakarya pembuatan wayang dan batik, wine tasting, makan malam sastra, kelas memasak, yoga, peluncuran buku, dan pertunjukan musik. Ada pula seminar yang diadakan di Balai Bahasa Denpasar dan FS Unud.

Tema umum yang diangkat di acara ini adalah sekala-niskala (the seen and unseen). Hingga pembahasannya mengenai bagaimana perbandingan antara yang tampak dan yang tak tampak dalam segala aspek kehidupan. Sesi diskusi Mistisisme dalam Bali Modern, bersama penulis asal Bali, Cok Sawitri dan I Gusti Ngurah Harta, menyuguhkan perbincangan mengenai hal-hal ghaib (tak terlihat kasat mata) yang akrab dengan kehidupan masyarakat Bali.



Berbagai sesi acara yang lain juga mengungkapkan sisi-sisi yang terlihat dan tak terlihat dari profesi kepenulisan. Lee Hye-Kyung (Korsel), Rosa Herliany (Indonesia), dan Somaya Ramadan (Mesir) mengungkapkan gambang latar belakang profesi kepenulisan mereka. Rosa memberi gambaran bagaimana kondisi penerbitan Indonesia di awal-awal karirnya. Pada waktu itu penulis perempuan tak banyak dihargai, karena yang mendominasi pasar penerbitan adalah penulis laki-laki. Hingga perjuangannya untuk bisa seperti sekarang tak bisa dibilang mudah. Belum lagi dengan segala pertentangan akibat puisi-puisinya yang cukup kontroversial. Gambaran senada diceritakan pula oleh Lee Hye-Kyung. Dari ceritanya, yang terjadi di negaranya mengenai penulis perempuan bahkan lebih buruk. Menimpali cerita tersebut, Somaya berujar, “Ketika menulis, berpura-puralah atau anggap saja kamu bukan perempuan.”

Rina & Ahmad Tohari

Hadir sebagai pembicara yang mewakili Indonesia antara lain, Ahmad Tohari, Anand Krishna, Debra H. Yatim, Isbedy Stiawan, Isman H. Suryaman, Julia Suryakusuma, Laksmi Pamuntjak, Ratna Indraswari Ibrahim, dan Salman Aristo.

Demi mengingat segala problema yang dialami bangsa ini, dari mulai kasus bom Bali, segala bencana, hingga larangan penerbangan maskapai Indonesia, konsistensi empat tahun penyelenggaraan festival internasional penulis dan pembaca di Bali ini patutlah dibanggakan. Harper’s Bazaar U.K. pun menobatkan festival ini sebagai ‘satu dari enam festival sastra terbaik di dunia,’ hingga tak salah jika Janet De Neefe sebagai Direktur Festival menjanjikan sebelumnya bahwa, “Anda tidak akan kecewa.”

*Dimuat di Tabloid Parle (Oktober 2007) http://www.tabloidparle.com/news.php?go=fullnews&newsid=1162

** Tulisan ini sebagai bentuk kekesalan karena saya lost so many translations (kehilangan begitu banyak terjemahan) di acara ini (baca: cengok) haha…
Lagian, udah bela-belain jauh-jauh dateng, kan tujuannya mo sok-sok jadi tuan rumah, eh, malah jadi alien di negeri sendiri.

Comments

  1. Waktu sesi Pak Ahmad Tohari bersama Giannina dan Manuka, penerjemahnya sempat berkeringat dingin. Awalnya, Pak Tohari berkata satu sampai tiga kalimat, langsung diterjemahkan.

    Tapi tiba-tiba beliau lanjut terus berbicara sampai melebihi lima menit. Seorang pengunjung di sebelah saya berkata tiga kali, "Translate, please." Akhirnya Pak Tohari berhenti. Dan seketika ruangan jadi hening.

    Penerjemahnya tampak menelan ludah. Saya, yang duduk di depan, jadi tak tahan untuk berkomentar, "Good luck."

    Untunglah sebagian besar berhasil diterjemahkan. Walau ada bagian-bagian yang terlewatkan.

    ReplyDelete
  2. Haha... untung nggak semua penerjemah spt penerjemahnya Pak Ahmad Tohari. (Contohnya penerjemahan di sesi Cok Sawitri dan Ngurah Harta yang lancar banget).

    Saya sempat mikir, seandainya pengunjung Indonesia bisa mencapai 50% aja, dan bahasa yang dipake fifty-fifty untuk bhs asing dan Indonesia, saya yang bhs inggrisnya pas-pasan jadi nggak perlu di hampir setiap sesi teriak, "Terjemahin donk!!"

    Tentunya waktu itu cuma bisa dalam hati :p

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.