Skip to main content

Osteoporosis: The Silent Killer Disease

Tak ada yang lebih menakutkan daripada penyakit yang tidak kelihatan. Kita tak pernah tahu kapan akan terkena serangannya. kita pun tak yakin usaha pencegahan yang dilakukan telah maksimal. Inilah yang menyebabkan osteoporosis disebut sebagai silent killer disease . Di masa muda orang tak dapat menduga apakah tulang dalam tubuhnya berkembang dengan baik, atau malah sebaliknya. Pengeroposan tulang dapat mulai terjadi di usia 30-an, dan efeknya mungkin timbul bertahun-tahun sesudahnya.

Dua dari lima penduduk di Indonesia memiliki risiko terkena osteoporosis. Demikian hasil analisis data yang telah disebutkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Depkes RI, bekerjasama dengan PT Fonterra Brands Indonesia (Mei 2007). Gejala yang sering timbul adalah rasa pegal dan nyeri tulang. Ini acapkali diabaikan oleh penderita, padahal jika dibiarkan akan dapat menimbulkan patah tulang, pembungkukan atau kelumpuhan.

Penyebab penyakit ini bermacam-macam, di antaranya adalah kurangnya kalsium yang berfungsi membentuk massa tulang agar lebih kuat. Orang yang doyan mengonsumsi kafein atau minuman bersoda dapat dengan mudah terjangkit osteoporosis. Minuman cola yang populer di dunia saat ini itu mengandung fosfor yang merangsang pembentukan hormon parathyroid , penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.

Selain soda yang mengandung kafein, daging merah, rokok dan alkohol juga dapat menyebabkan tulang keropos, rapuh atau rusak. Penyakit ini dapat terjadi akibat terhambatnya pembentukan massa tulang oleh zat-zat tersebut di atas. Adalah suplemen yang mengandung kalsium yang seringkali diiklankan sebagai produk yang dapat mencegah penyakit osteoporosis. Namun rupanya tak cukup hanya suplemen, pencegahan mesti dilakukan dengan berbagai cara.

Olah raga seperti berjalan kaki sangat dianjurkan jika ingin mencegah penyakit ini. Dapat pula dengan fitness , senam, atau jogging . Olah raga yang melibatkan beban tubuh dapat merangsang pertumbuhan tulang dan menjaga tulang kuat. Dan aktivitas yang melibatkan beban tubuh ini tetap akan bermanfaat bagi tulang pada usia berapapun. Jadi di usia tua pun olah raga tetap mesti dijalani secara teratur.

Selain olah raga, proses penguatan tulang juga akan sangat terbantu dengan Vitamin D. Penelitian terakhir yang dilakukan oleh tiga negara (Kompas, 19/05/2007), yaitu Universitas Indonesia, Otago University, New Zealand, dan Universitas Putra, Malaysia, menghasilkan bahwa 63% perempuan di Indonesia kekurangan Vitamin D.

Pada hakikatnya Vitamin D berfungsi membantu tubuh untuk menggunakan kalsium. Kepadatan tulang perempuan memang lebih rendah dibandingkan pria. Itu sebabnya kaum perempuan lebih rawan terkena risiko osteoporosis. Kebutuhan kalsium perempuan akan meningkat pada saat kehamilan, menyusui dan menjelang menopause. Vitamin D secara alami dapat diperoleh dari sinar matahari. Ini barangkali yang menjadi penyebab kurangnya vitamin D pada perempuan Asia, yaitu karena di Asia para perempuan cenderung menghindari sinar matahari langsung, dengan mengenakan pakaian yang tertutup dan hanya menyisakan sedikit area yang terbuka. sebisa mungkin malah melindungi sama sekali tubuh dari sinar matahari supaya kulit tidak menjadi hitam.

Pencegahan yang tak kalah pentingnya dapat dilakukan dengan pola makan yang sehat. Konsumsi kalsium dapat diperoleh dari susu, keju, sayuran hijau dan ikan. Bermacam suplemen berupa tablet yang disebut mengandung kalsium oleh para ahli ditegaskan tidak menjamin banyak untuk mencegah osteoporosis. Suplemen kalsium tidak dapat membantu kekurangan kalsium jika konsumsi makanannya rendah kalsium. ■

* Tulisan ini dimuat di Tabloid Parle (Juli 2007)

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.