Skip to main content

Prometheus Makan Hati

Aku adalah panas. Bagaimana ya kukatakan kepadamu bahwa aku adalah panas yang mesti kau takuti.

Masih ingat bagaimana sang Dewa Yunani telah menghukum Prometheus dengan mengikatnya di tebing batu Gunung Kaukasia? Mengikat tangan dan kakinya hingga ia tak bisa bergerak. Lalu seekor burung elang berputar-putar di sekelilingnya mengincar hati sang pahlawan, untuk dipatuk, dikunyah, dan ditelan. Si elang mengoyak hati Prometheus dan memakannya setiap hari. Karena setiap kali hati itu koyak dan habis dimakan, maka keesokan harinya dia akan kembali pulih seperti semula, siap untuk dikoyak lagi, dikunyah lagi, dihabisi lagi.

Entah bagaimana rasa sakit itu bertahan. Entah bagaimana jeritan yang menggema di gunung tidak menyentuh hati para Dewa. Entah bagaimana waktu itu kesalahannya sedemikian rupa tak tertebus.

Ia hidup hanya dengan meminum sebisa mungkin air hujan dan hanya itu hingga badannya kurus kerontang sarat penderitaan. Setiap hari. Selama tiga puluh ribu tahun.

Prometheus dihukum karena telah mencuri. Tapi bukan mencuri roti yang bisa menyebabkan seseorang sekadar dipotong jarinya. Bukan juga mencuri perempuan yang menyebabkan dua kerajaan raksasa saling memerangi sampai penuh laut oleh darah. Ia cuma mencuri senyala aku. Ia mencuriku dari singgasana negeri para Dewa di langit, lalu membawa nyalaku dalam obornya dan menyebarkannya di seluruh bumi. Ia menyelamatkan dunia ini dari bencana kebekuan. Ia menyelamatkan manusia, hasil ciptaanya itu, dari kematian karena dingin. Ia membawa kehidupan yang seimbang di bumi ini, antara aku dan dingin.

Manusia bersorak-sorai karenanya. Melambungkan nama Prometheus sebagai pahlawan. Menikmati kobaranku sebagai hasil dosa manusia. Bersyukur atas dosa itu seperti halnya manusia bersyukur atas dosa Adam.

Aku melihat bagaimana tatapan-tatapan kosong manusia menjadi mengkilat. Melihat muka-muka pucat mereka menjadi bersemu. Menemukan cahaya terang di mana-mana di permukaan bumi.

Aku lalu menggigil karena kegembiraan yang menyeruak. Meliuk-liuk karena kesenangan yang meledak. Memerah karena kehidupan baru mulai terkuak.

Satu demi satu kusaksian anak-anak kesayangan Prometheus lahir. Berkicau begini begitu. Memuja kakek moyangnya. Memuja Titan pencipta mereka. Memuja matahari. Memuja kehidupan dengan aku.

Oh ya, aku adalah kuasa. Seperti kau melihat iblis menari-nari? Itu adalah tarianku. Dan tarianku dinikmati semua makhluk, Mereka menjaga agar aku terus menari. Di mana-mana. Kapan saja. Bagaimana pun caranya. Ketika aku meredup, dikobarkannya lagi aku. Ketika aku mengecil, dibesarkannya lagi aku. Oh, betapa aku menyukai kekuasaan ini. Sementara para pemujaku bisa begitu menderita karenaku. Menderita karena saking cintanya.

Aku yang tadinya kecil perlahan-lahan meremaja. Perlu waktu ribuan tahun untuk itu. Puluhan ribu tahun hingga sempat melewati waktu kedatangan Hercules membebaskan Tuanku. Yah, sebut saja diriku ini bertuan pada Prometheus. Bagaimana pun juga dia yang telah membebaskan aku dari perbudakan para Dewa. Yang mengantarkan aku pada kesombongan akibat pemujaan abadi manusia-manusia beradab. Perlu kusebutkan kata ‘beradab’ ini agar kau tahu bahwa aku memang layak untuk dipuja. Barangkali itu juga sebabnya mengapa Zeus menjadi terlalu pelit untuk membagi aku dengan yang makhluk lain. Tapi sudah telanjur ya bagaimana lagi.

Jadi aku yang tadinya kecil perlahan-lahan meremaja. Seiring dengan meremajanya pula sahabat-sahabat maupun musuhku.

Masih ingat bagaimana sang Dewa Zeus menghukum umat manusia ciptaan Prometheus? Hukuman adalah pemberian yang tak bisa ditolak. Seperti perempuan cantik yang tak mungkin dipulangkan oleh laki-laki. Seperti sebuah kotak misteri yang tak mungkin tidak diindahkan oleh si perempuan.

Dan di sanalah Pandora. Membuka misteri yang seharusnya tak boleh dibuka. Menyebarkan bencana yang seharusnya tak boleh ada. Tapi sejak Prometheus membawa aku, kesini, bagaimana mungkin manusia tidak akan menikmati bencana-bencana itu? Aku tahu pasti mereka memuja pemberian-pemberian Dewa lainnya itu, seperti mereka memuja aku. Tentu dengan tidak menamainya bencana, seperti Zeus menamai maksud jelasnya.

Maka jadilah aku membagi ekspresi kegembiraan mereka untuk teman-temanku. Percikan dingin air, mekarnya bunga, tiupan segar angin, cerianya burung-burung, bersamaan dengan serbuan air bah, layunya tanaman, berputarnya angin puyuh, dan kejamnya raja singa.
Kami hidup berdampingan. Panas dengan dingin. Amarah dengan ketenangan. Pengkhianatan dengan kejujuran. Kelicikan dengan ketulusan. Kejahatan dengan kebaikan. Kekosongan dengan keterisian. Apapun untuk membuat manusia-manusia itu tak bosan hidup.

Tapi keremajaan bukanlah sesuatu yang abadi. Meskipun tempat dan pelakunya abadi. Aku abadi, bumi dan manusia pun begitu. Sayangnya begitu. Tapi kita semua beranjak dewasa. Dan kedewasaan membuka segala kesempatan untuk mengenal semua yang disebut bencana. Jadi aku yang telah lama berkenalan dan berteman baik dengan kekuasaan, serta merta menyetubuh dengannya.

Aku merasuk ke mimpi manusia akan nyala kemenangan. Akan gemerlapnya hidup bak raja di raja yang tinggal tepuk tangan. Aku ada dalam keinginan. Aku memenuhi kehampaan dan membuatnya penuh hingga bahkan luber berlebihan.

Aku muncul di alam bawah sadar manusia bahwa aku adalah sesuatu yang mereka butuhkan, bahkan ketika mereka sebenarnya tidak butuh. Aku datang kepada orang-orang yang dengan mudah kubuat merasa perlu, padahal mereka sebenarnya tidak perlu. Aku terus tumbuh besar hingga telah menyiksa. Bukankan hanya orang-orang yang terlau cinta yang mampu merasa tersiksa? Itulah yang kemudian terjadi kepada para pemuja. Mereka tersiksa. Mereka terhanyut. Mereka ketakutan. Mereka hampir –atau sudah- terbunuh. Pulau-pulau langka itu punah. Hewan-hewan terpencil itu tenggelam.

Dan manusia kesesakan. Antara terlalu panas, dan terlalu dingin. Dan semua keterlaluan.

Sedang aku malah tertawa. Rasa-rasanya aku teringat pada pepatah ‘senjata makan tuan’. Atau ungkapan ‘pagar makan tanaman’. Atau kata-kata ‘bumerang’. Aku pikir, Tuanku Prometheus sudah makan hati karenaku.

Sedang aku tetap menari. Aku menari di sudut setiap rumah. Di ruang setiap gedung. Di lapang setiap hutan. Berteman baik dengan kawanan gembala sapi, dengus nafas manusia, dan corong setiap pabrik.

Hingga sudah kubilang tadi bahwa aku adalah juga kuasa. Dan kuasa itu duduk di singgasana teratas. Dan tak ada satu macam hal pun di dunia ini yang bisa mencapai ketinggiannya.

Kecuali satu hal. Satu hal yang juga --atas belas kasih maupun selera humor Dewa Zeus, apapun itu, aku salutkan hal ini padanya-- ada dalam kotak yang dibuka Pandora, si gadis yang mau tahu aja itu. Satu hal ini yang akan dapat membawaku untuk sedikit menengok ke bawah. Tak hanya mendongak tanpa henyak di kursi mahalku. Atau bahan mungkin saja dapat menarik aku keras-keras dalam renggutan yang membuat aku akan duduk bersama-sama lagi dengan teman-temanku yang dulu. Dan meski kami akan berebutan lagi menduduki kursi, tapi tak apa. Bagaimanapun berusaha merebut kursi dan berhasil merebutnya, adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama itu tetap lebih baik.

Karena sebenarnya aku, yang mesti membuat kalian semua takut, jugalah sedang ketakutan. Kalau-kalau seseorang menemukan satu musuhku itu. Satu hal yang sering dilupakan manusia-manusia yang tersiksa.

Dan kuingatkan lagi kepadamu, tapi ini adalah rahasia, bahwa hal itu adalah harapan.

Jakarta,
Senin, 23 Juli 2007.


~ o 0 o ~

Tentang cerpen ini:

Satu dari lima "Pemenang Pengarang Berbakat" di Lomba Cerpen HUT Parle bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta, di Teater Kecil TIM Jakarta, September 2007.

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.