Skip to main content

Ketika Tapol Menulis

"Tadi malam saya mimpiin Presiden," kata saya pada teman satu sel.

Ia pun berkata, "Wah, bagus. Itu pertanda bahwa kamu akan segera bebas. Selamat ya."

Ah, tapi saya tidak percaya. Saya lebih mungkin dibebaskan kalau saja yang terjadi sebaliknya: Pak Presiden-lah yang memimpikan saya.

[Disadur dari sebuah cerita dalam buku Menghitung Hari, Arswendo Atmowiloto]

Kualitas tulisan yang lahir di dalam penjara mau tak mau membuat saya iri. Ada rasa ingin juga kapan-kapan tertangkap dan dipenjarakan. Tentunya jangan sampai karena ngutil di mini market, tapi untuk tuduhan yang mulia, semisal, memperjuangkan kebenaran yang tidak (atau belum) sejalan dengan kebenaran versi rezim sezaman. Maka predikatnya akan lebih bergengsi: Tapol (Tahanan Politik) Bukannya: Maljem (Maling Jemuran).

Kehidupan dalam sel itu bisa jenaka dan inspiratif. Demikian kesan yang saya peroleh ketika membaca buku Menghitung Hari (1993) karya Arswendo Atmowiloto. Buku itu penuh anekdot tentang bagaimana ia menjalani keseharian di penjara. Kadang memang tragis, kadang juga ironis. Di akhir setiap tulisan, penulis ini menyuratkan pula pesan moral pada pembaca. Saya, dengan semangat pemberontakan ala anak SMP pun rajin mencatat segala pesan yang penting. Untuk bekal kalau suatu hari saya memperoleh ‘keberuntungan’ yang sama seperti beliau, pikir saya waktu itu.

Buku lain yang menceritakan kehidupan dalam penjara ditulis Mochtar Lubis dalam Catatan Subversif (1980). Sesuai judulnya, buku ini lebih serius daripada buku Arswendo. Yang banyak diuraikan adalah pandangan-pandangan penulis terhadap kondisi politik, ekonomi dan sosial di masa pemerintahan Soekarno. Berbeda dengan Arswendo yang tidak menyoalkan alasan mengapa ia ditahan, Mochtar Lubis justru memperkarakannya habis-habisan.

Karena ditulis sebagai catatan harian, maka Pemred Harian Indonesia Raya ini pun tak segan-segan menyebut nama-nama yang dihujatnya, termasuk Presiden sendiri. Di antaranya ia menyerang cita-cita Soekarno untuk membuat nuklir dengan membeberkan seberapa banyak isi kantong negara ini serta hutang-hutangnya lalu dibandingkan dengan biaya yang dibutuhkan untuk membuat teknologi canggih itu bertengger di nusantara.

Maka dengan bebas terlontarlah kata-kata,‘bodoh’, ‘omong besar’, dan semacamnya. Kata-kata yang tidak akan mengganggu siapa pun selama tertulis dalam buku harian pribadi yang disimpan rapi dalam lemari.

Namun toh buku itu sempat terbit. Dan seandainya diterbitkan ulang di era bebas-tulis-apa-saja seperti sekarang, pasti banyak yang berminat membacanya. Dan kalau waktu itu sudah ada tren ngeblog, tentulah blog Mochtar Lubis akan ramai diklik.

Tidak sepadu dan seutuh cerita dalam novel-novel beliau memang, tapi buku ini terasa jujur. Setiap kalimat ditulis spontan begitu saja. Banyak saat suami dan bapak yang penyayang ini menggemakan kerinduannya pada anaknya dan istrinya, Hally. Ia juga menuliskan kebingungan dan kadang kesedihannya bahwa betapa ia tak bisa menikmati kebebasan selama bertahun-tahun sedang vonis pengadilan tak kunjung diketukpalu. Bahkan juga ia menuliskan detil menu makan sehari-harinya, yang tidak sulit diingat saking minimalis dan ‘itu-itu saja’nya.

Dan tak lengkaplah tulisan ini jika tak menyebut Pramoedya Ananta Toer. Meski diisukan berseberangan sikap politik dengan Mochtar Lubis, toh mereka menjumpai hal yang sama, dan menyuarakan kepentingan yang kurang lebih sama. Antara lain tuntutan akan kebenaran dan keadilan. Jadi, saya pikir, tentulah sedikit banyak, mereka sejiwa.

Saya belum berkesempatan membaca karya Pram yang ‘curhat’ soal keseharian beliau di pulau pembuangan. Tapi saya ada membaca fiksi sejarahnya yang dicakup dalam Tetralogi Pulau Buru. Bumi Manusia, tak dapat disangkal, merupakan karya paling dramatis dan mengesankan dari semua fiksi Indonesia yang pernah saya baca.

Tak habis pikirlah saya bagaimana seseorang bisa menulis rangkaian fiksi sejarah yang bagus dalam ribuan lembar halaman, sementara sang penulis tak bisa mengobok-obok perpustakaan, mewawancarai narasumber, apalagi menggoogle. Ia cukup mengandalkan ingatan dan data-data yang terbatas, dengan fasilitas hidup yang tak nyaman pula.

Kembali soal yang disuarakan oleh para Tapol, kalau versi luar negeri ada Solzhenitsyn dengan noveletnya Sehari dalam Kehidupan Ivan Denisovich. Ini saatnya saya benar-benar berdoa agar jangan sampai pernah mengalaminya. Di sini diceritakan bagaimana tersiksanya para narapidana yang menjalani kerja paksa. Membacanya saya betul-betul bergidik. Kalau saya ada di sana, mungkin sudah bunuh diri dengan membenturkan kepala ke logam hasil tambang. Alih-alih terpikir menulis karya sastra.

Sejenis juga yang dialami Dostoevsky. Di tahun-tahun masa hukumannya di kamp kerja paksa Siberia, ia menulis The Idiot. Tokohnya diceritakan mengidap epilepsi, persis seperti penyakitnya sendiri yang dipicu penderitaannya selama menjadi tahanan. Beberapa karya terkenal lain ditulisnya setelah bebas, yaitu Brother Karamazov dan Crime and Punishment. Yang belakangan ini terjemahannya diterbitkan YOI beberapa tahun kemarin. Sebuah cerita misteri yang sarat konflik psikologis.

Seperti ciri umum fiksi Rusia awal abad 20, karya Dostoevsky, juga Solzhenitsyn, menceritakan kesedihan dalam hidup dengan begitu sederhana dan realistis. Ini tentu didukung dengan pengalaman hidup mereka yang ‘biasa susah’ alias jauh dari kemapanan. Dari situlah tercipta unsur-unsur tragis meski kadang menyiratkan unsur harapan juga serta perjuangan meraihnya. Unsur-unsur inilah yang sangat mudah dibayangkan orang yang pernah mengalami saat-saat pahit dalam jeruji besi.

Mengikuti baris demi baris jalan cerita yang ditulis para tapol ini membuat saya terngiang lirik lagu Crowded House:

“... There’s a battle ahead
Many battles are lost
But you’ll never see the end of the road
while you’re travelling with me

Hey now, hey now, don’t dream it’s over
Hey now, hey now, don’t let them win...”


Baca juga:

Diary Tradisional, Elektronik, atau Online?

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.