Skip to main content

World Silent Day


Bagaimana kalau seluruh dunia sepi selama sehari. Tidak ada yang keluar rumah, tidak ada kendaraan, tidak ada penerbangan, tidak ada lampu penerangan di manapun di seluruh kota. Sejauh suara bising yang terdengar hanyalah gonggongan anjing, gemerisik daun di dahan, dan kicau burung. Segala aktivitas penduduk terhenti total selama sehari semalam.

Inilah yang digagas oleh para aktivis lingkungan di Bali dan sempat dikampanyekan lewat film Nyepi Day yang diputar di depan para delegasi UNFCCC yang berlangsung Desember lalu di Nusa Dua. Nyepi diperkenalkan sebagai event yang dapat secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca. Di pulau Dewata sendiri Nyepi dapat menurunkan emisi hingga 20 ribu ton.
Penggunaan listrik pun pada Tahun Baru Saka 2007 menurut data PLN wilayah Bali telah berkurang sebanyak 60%. Di rumah-rumah pun aktivitas memasak dan sebagainya tidak banyak dilakukan hingga ini berakibat baik dalam rangka penghematan energi.

Menurut kepercayaan dalam ajaran Agama Hindu, ada empat pantangan yang wajib dipatuhi pada saat Nyepi, yaitu yang disebut Catur Berata Penyepian, yang berlaku dari mulai matahari terbit hingga terbit lagi keesokan harinya.
Pertama, Amati Geni, yaitu pantang menyalakan api, yang berarti tidak boleh memasak, dan tidak menyalakan lampu.
Kedua, Amati Karya, yaitu pantang beraktivitas kerja, yang berarti di rumah pun tidak boleh melakukan apa-apa meski hanya membetulkan genteng. Yang mesti dilakukan adalah bertapa, semedi, atau yoga, yang bertujuan menyucikan batin.
Ketiga, Amati Lelanguan, yaitu pantang bersenang-senang atau menyaksikan hiburan. Ini berarti tidak menonton tv, tidak main game, tidak mendengarkan musik dan tidak pula makan minum.
Keempat, Amati Lelungan, yaitu pantang bepergian. Ini menyebabkan jalan-jalan sepi dan seluruh kota seperti kota mati.

Nyepi utamanya bertujuan untuk menyucikan alam manusia, dan juga alam semesta. Oleh karenanya sebelum dan sesudah hari Nyepi ada beberapa ritual yang lazim dilakukan umat Hindu. Antara lain, membuat sesaji untuk mengusir Buta Kala (simbol kejahatan) agar tidak mengganggu umat (upacara mecaru), mengarak keliling ogoh-ogoh, yaitu semacam patung besar yang biasanya dibuat bermuka seram dan jelek sebagai simbol Buta Kala, yang kemudian dibakar ramai-ramai (upacara pengrupukan). Ada pula ritual menghanyutkan segala kotoran ke laut sebagai simbol penyucian diri (upacara melasti), dan terakhir setelah hari H ada acara saling mengunjungi antar kerabat dan teman-teman dan saling maaf-maafan. Ini semua dilakukan agar umat Hindu memiliki kesiapan batin untuk menjalani tahun baru.

Dan bagaimana dengan dengan penduduk di Bali yang non-Hindu?
“Kalau lagi Nyepi, itu kesempatan buat keluarga kumpul semua di rumah,” ujar Intan Alwi (34), nyame selam (sebutan orang Bali untuk saudara pemeluk agama Islam) yang tinggal di Bebalang, Kab. Bangli. “Yah, ada hikmahnyalah, kalau hari biasa kan masing-masing sibuk dengan aktivitas sendiri jadi jarang bisa ngobrol lama di rumah.”

Perayaan Nyepi tahun ini yang bertepatan dengan hari Jumat, tidak mencegah umat Muslim untuk tetap dapat shalat ke Masjid, hanya saja harus dengan berjalan kaki. Suara adzan pun dapat tetap dikumandangkan namun disepakati untuk disesuaikan volumenya.

Untuk memastikan lancarnya kelangsungan Nyepi, di setiap desa biasanya ada petugas keamanan khusus yang disebut pecalang. Mereka dengan pakaian adat bertugas keliling-keliling untuk memastikan tidak ada keributan, tidak ada penerangan dari rumah-rumah, dan juga untuk berjaga-jaga jika ada penduduk yang harus segera ke rumah sakit atau ibu yang hendak melahirkan.

Mengenai harus dimatikannya semua lampu, Intan mengaku pernah ditegur pecalang malam-malam karena cahaya rumahnya terlalu terang hingga sampai menyoroti jalan-jalan. “Sejak itu kita selalu pasang koran atau kain di setiap celah jendela supaya rumah tetap terlihat gelap. Nonton tv juga volumenya kita kecilin. Gimanapun kita kan mesti menghormati ya hari raya umat lain.”

Dan rupanya Nyepi tak selalu berhubungan dengan Tahun Baru Saka. Di Bali ada desa-desa yang mengadakan Nyepi sendiri pada penanggalan-penanggalan tertentu. Seperti di desa Ababi dan Ulukan, Karangasem, dan di desa Pujungan, Tabanan. Hakikatnya tetap sama, yaitu penyucian diri dan alam. Ini disebut dengan Nyepi Karya, karena Nyepi dilakukan menjelang suatu karya besar (upacara besar) di desa. Diharapkan pada pelaksanaan karya tersebut semuanya bisa lancar dan khusyuk.

Apapun tujuannya, Nyepi dapat menjadi one day off atau jeda yang efektif bagi tiap orang untuk sesaat menarik nafas agar dapat berfikir lebih jernih lagi keesokan harinya. Sekaligus juga membiarkan alam beristirahat sejenak dari jamahan tangan manusia. Jadi baik juga kalau kearifan lokal ini tak hanya terjadi di Bali, tapi juga seIndonesia atau bahkan sedunia. World Silent Day akan menjadi hari yang luar biasa kalau suatu hari terwujud.

Let's vote at www.worldsilentday.org

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.