Skip to main content

Batik Itu Perjuangan

Bicara batik, orang sering salah kaprah dengan menganggap bahwa batik semata dilihat dari corak. Padahal esensi batik sebenarnya terletak pada prosesnya, bukan corak. “Jadi, walaupun coraknya Donal Bebek, misalnya, tapi prosesnya ditulis (batik tulis), ya itu batik,” ujar Guruh Soekarno Putra menjelang acara pagelaran busana batik karyanya yang meramaikan hari pertama Pameran Kain Tradisional di Balai Sidang Jakarta pada Rabu (16/04/08) lalu.

Batik dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pertama, batik tulis, yang pembuatannya ditulis goretan demi goretan dengan canting. Yang kedua adalah batik cap, yang motifnya dicap ke permukaan kain, dan ketiga adalah batik printing, yaitu corak yang dicetak di atas kain yang prosesnya juga lazim disebut sablon.

Untuk yang terakhir ini, kalau memang batik itu adalah proses, mestinya memang tidak bisa disebut batik. Lebih tepat jika disebut, “Tekstil bermotif batik,” ujar Guruh yang hari itu mengenakan kemeja batik santai berpadu dengan celana jeans.

Musisi yang juga perancang busana ini telah mulai memproduksi batik terhitung sejak tahun 1997. Ia mengaku memproduksi semuanya dari ketiga jenis batik itu. Ia juga membatik di atas segala jenis bahan kain. Baik itu jeans, wool, polyester, bahkan bludru, dan sebut apa saja. Prinsipnya adalah melihat hasil akhir.

Menghargai hasil karya batiknya, seniman yang lengkap ini mengibaratkan batik seperti lukisan. Ia yang menetapkan harga dari mulai 150 ribu hingga tujuh juta rupiah ini tidak mempersoalkan jenis kain, motif, maupun pemrosesannya. Ia lebih melihat hasil akhir, lalu baru dapat mematok harga pada batiknya. Jika ada yang sangat ia suka, ia pun bisa amat sayang melepasnya pada pembeli.

Putra Sang Proklamator ini juga mengajak para pengusaha batik Indonesia agar jangan takut-takut pasang harga. Kalau membeli karya Louis Vuitton, Hugo Boss, atau perancang lain luar negeri kita bisa merogoh kocek sampai puluhan juta, dan merasa wajar-wajar saja. Sedangkan untuk karya anak negeri yang tak kalah berkualitas, harga sekian juta dianggap terlalu mahal.


Koreografer dan komposer yang stand-nya juga ada pada pameran ini, menghimbau para konsumen untuk lebih mengapresiasi kain tradisional, seperti batik. Lagi pula kini batik sudah tidak lagi hanya untuk acara-acara formal. Batik sudah bisa dipadu-padankan menjadi pakaian sehari-hari yang bebas. Tidak kaku lagi penggunaannya seperti zaman dulu.

Pengrajin batik lokal kini tengah terpukul. Utamanya para pengrajin batik tulis yang kini kalah saing dengan batik printing yang dalam sehari bisa menghasilkan beribu-ribu produk dan dijual dengan harga yang lebih murah pula.

Sementara itu para pengrajin batik tulis yang terdiri dari para orang tua pelanjut tradisi kini terancam kehilangan generasi penerus. Pasalnya anak-anak muda sekarang sudah sangat jarang yang berminat belajar membatik, apalagi berprofesi di bidang ini. Salah satu alasannya adalah karena penghasilannya kecil, ujar Guruh masygul. Jadi untuk konsisten membatik, rupanya adalah perjuangan yang tidak mudah.

Kain Langka yang Menakjubkan

Berjalan di sepanjang area pameran yang bertajuk Adi Wastra Nusantara ini rasanya seperti di tengah ruang keraton zaman dulu. Mata kita dimanjakan oleh berbagai helai kain yang tergeletak indah di berbagai pancang. Setiap sudut menebar semerbak wangi bunga melati.

Koleksi-koleksi yang dipajang pun amat beragam. Dari daerah asal, corak, proses pembuatan, usia, dan harganya. Sebagian di antaranya bahkan priceless, yang kini diabadikan sebagai koleksi pribadi ataupun koleksi dari Himpunan Wastraprema sendiri, sebagai penyelenggara acara.

Stand perancang Carmanita, misalnya, menampilkan koleksi-koleksi pribadi Ibu Sud dan Ibu Hartini Soekarno periode tahun 1955-1970. Ada pula stand-stand lain yang memajang kain tradisional asal berbagai daerah dari mulai Aceh, Jambi, Jawa Tengah, Bali, NTT dan sebagainya. Stand Museum Purna Bhakti Pertiwi dari TMII juga selain menggelar kain-kain lokal, juga menampilkan berbagai busana tradisional mancanegara, seperti dari Myanmar, Brunei, Malaysia, dan Cina.

Kain-kain langka yang ditebar di Hall A JCC merupakan pusat keunikan dari pameran ini. Di sana berbagai kain digelar beserta keterangannya. Ada kain Koffo dari Sulawesi Utara yang ditenun dari serat pisang liar sampai abad ke-20 di kepulauan Sangir – Talaud. Ada pula koleksi dari Ibu Miranda Gultom berupa Harung Gurang dari Porsea (Sumut), yaitu ulos yang terdiri atas tiga kain yang panjang yang disambung sehingga terbentuk kain yang tebal. Kain yang diperoleh pemilik dari eyangnya ini berusia lebih dari seratus tahun.

Yang menakjubkan lagi adalah Kain Gresik dari Jawa Timur yang disebut Gunung Guntur. Kain ini pernah dipakai oleh Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana XI pada malam midodareninya.

Tak dapat direka betapa berharganya peninggalan-peninggalan kain batik yang bertebaran di Nusantara ini. Maka pameran kriya semacam ini patut diberi apresiasi yang tinggi mengingat tak banyak dari generasi muda kini yang peduli dengan kelestariannya. Proses pembuatannya yang dapat memakan waktu berbulan-bulan dengan keindahan yang diakui internasional selama beratus tahun, cukup menegaskan betapa tidak mudahnya perjuangan sehelai batik. Jadi, dengan memakai batik untuk sehari-hari, tak hanya untuk Hari Kartini, bolehlah sebagai usaha mengakui batik sebagai milik kita, bukan milik bangsa lain.


(Rina Nazrina untuk Parle)

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.