Skip to main content

Sepuluh Pemeran Film Laskar Pelangi Ditemukan


Mira Lesmana, produser yang akan memproduksi film Laskar Pelangi memberi bocoran bahwa kesepuluh pemeran Laskar Pelangi telah ditemukan dan kini sedang dalam proses berlatih.

“Ada dua belas orang sebenarnya, termasuk pemeran A-Ling dan Flo, “ ujarnya dalam acara diskusi dan book signing Laskar Pelangi di MP Book Points Jakarta Selatan, pada Rabu (16/04/08) lalu. Di acara ini juga hadir Duta Besar Hungaria yang rupanya akan menerjemahkan Laskar Pelangi dalam bahasa Hungaria, menyusul kesuksesan penerjemahan buku ini dalam bahasa Melayu.


Untuk film ini, setelah melalui proses casting yang melibatkan tak kurang dari 1300 peserta, maka terpilihlah dua belas anak-anak asli Belitung itu. Mira sendiri sudah empat kali bolak-balik ke pulau Belitung untuk urusan casting ini dan juga riset.

“Bahkan buaya-buaya juga kami casting,” selorohnya menanggapi hadirin yang bertanya mengenai adegan buaya, “Jadi, buayanya akan real,” katanya sebab ia berusaha membuat film ini sedekat mungkin dengan realitas, meskipun di beberapa bagian akan memakai teknologi juga. SD Muhammadiyah sebagai setting cerita yang kini sudah tidak ada lagi, akan dibangun kembali untuk tujuan shooting dan dibuat semirip kenyataannya dulu.

Si ‘Ikal’ Andrea yang duduk di sebelah Mira terus memanas-manasi hadirin di sepanjang acara dengan berseru, “Film ini lebih bagus dari bukunya!”

Ia juga menghimbau para pembaca bukunya agar jangan berharap film harus sama persis dengan yang ada di buku. “Kalau sama saja, buat apa dibuat film?” katanya.

Alumni Sorbonne ini juga meyakinkan bahwa para penggarap film telah begitu pintar dan kreatif waktu menceritakan kembali adegan-adegan di buku dengan skenario yang berbeda, namun tetap berhasil menggambarkan dengan tepat karakter tokoh-tokohnya. “Memang orang-orang kriting itu pintar-pintar,” ujar Andrea sambil bergelak mengingat memang kebetulan Mira Lesmana dan Riri Riza kompak berambut kriting sepertinya.

Tanggapan baik dari sang penulis buku, bagi Mira amat melegakan, karena itu berarti bahwa filmnya telah melewati satu tahap awal.

Dan bagaimana dengan imbas film ini nantinya terhadap pulau indah Belitung? Dengan ketenaran buku saja sudah membuat Belitung dilirik orang. Jadi dengan segala kegiatan film, casting, dan nanti kalau film ini sudah beredar dan sukses, akankah Belitung berubah?


Pertanyaan ini dijawab Andrea dengan bercerita bahwa ketika ia bertemu anak tetangganya yang juga ikut casting film, anak itu rupanya masih main bola di rumah padahal casting akan mulai beberapa menit lagi. “Saya pikir, ini kalau castingnya di Jakarta, seminggu sebelumnya ibunya si anak pasti sudah ribut-ribut.”

Karena menurut Andrea, daerah tempatnya tinggal yang jauh di pelosok Belitung Timur itu, udiknya nggak ketulungan. Mungkin keadaan akan berbeda di Tanjong Pandang, daerah perkotaan di pulau itu.

Shooting direncanakan akan berlangsung bulan Mei 2008, dan film akan edar Lebaran. Persiapannya sendiri sudah berlangsung sejak awal tahun lalu. Jadi kalau masih ada yang cemas dan takut nanti kecewa dengan filmnya, “Nothing to worry about,” kata Andrea dengan senyum cerah. Kita tunggu saja.

(Rina Nazrina untuk Parle)

Comments

  1. Salam kenal...

    Aku juga nunggu film laskar pelangi...

    kemarin di beli tabloid gara2 di sampul depan tertulis syuting laskar pelangi..

    ADa profil anak-anak pemeran laskar pelangi ...

    Sepertinya banyak yang pas sesuai gambaran waktu baca novelnya...:-)

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga Rohmita...

    Oh ya... udah ada di tabloid2? aku blum liat tuh... menarik kayaknya...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.