Skip to main content

Matahari Ketika Absen



Aku tidak tahu kenapa malam ini begitu dingin. Aku memang tidak mengenakan jaket saat itu, tapi biasanya tidak sedingin ini. Stasiun kereta api Cikini begitu riuh. Orang-orang yang ramai itu bikin kau cemas, karena di gerbong kereta nanti bakal sedikit sekali ruang untukku bernafas.

Ku tangkap lagi bayangannya. Sosok berbaju putih dan berbaju dan blue jeans lusuh itu mau tak mau menarik perhatianku sejak pertama dia muncul di peron. Kupastikan bukan cuma aku yang menoleh saat itu, karena dia memang berarti untuk ditoleh. Gayanya begitu sederhana, Cuma jeans dan t-shirt, serta sepasang sepatu cads merah garis-garis putih. Rambutnya ikal melingkar-lingkar halus di sekeliling bahunya. Tapi matanya menyorot hidup, sehingga kupikir siapapun yang sedang mengantuk akan terbangun segar kalau disoroti oleh kedua mata hitam itu.

Tas selempangan itu sama sekali tidak mengganggu geraknya kesana kemari. Dia tidak bisa diam. Ekspresinya betul-betul hidup. Aku ingin memandanginya terus tapi tak ingin tampak bodoh dengan melakukannya. Jadi dengan menghela nafas aku berbalik dari yang tadinya menyandar di tembok— lebih mirip pagar--, menjadi menghadap ke luar.

Pemandangan di bawah sana mengagumkan. Memang selalu mengagumkan kalau dilihat dari ketinggian seperti aku sekarang. Lampu-lampu, gerak mobil dan pejalan kaki. Bahkan lampu tukang gorengan pun jadi fantastis. Coba lihat ke atas, memang tidak terlihat bintang atau bulan. Tapi biru langit sudah cukup.

Ketika aku akhirnya sadar keadaan sekeliling, tepat ketika bersiknya suara kereta express lewat, aku kaget menyadari dia disebelahku. Cukup dekat sampai aku merasa pasti ketahuan kalau memandanginya lama-lama. Jadi aku cuma melirik sekilas, memastikan itu benar-benar dia, dan bahwa dia memang secantik itu.

Dia juga sedang mengagumi pemandangan di bawah dan di atas seperti yang kulakukan tadi. Aku ingin mengajaknya bicara tentang sesuatu. Tapi aku khawatir kalau ternyata dia tidak sadar akan aku, dan sekaligus juga aku terlalu angkuh untuk memulai. Jadi biarkan saja begitu. Dia dengan kesendiriannya, dan aku dengan kehidupanku sendiri. Aku tidak lagi tertarik memandang keluar. Kini aku kembali berbalik dan menyandar di tembok itu seperti tadi.

Entah mataku yang bermasalah, atau ingatanku yang kurang beres, tapi sekarang aku tidak melihat seorangpun di peron stasiun itu. Rasanya belum ada kereta sejak tadi yang lewat dan meninggalkanku. Gadis itu satu-satunya yang tersisa. Kemana orang-orang lain?

Lalu kudapati diriku tidak terlalu bingung lagi. Aku sering mengalami hal-hal serupa ini. Hal-hal yang kupikir tadinya ada, ternyata tidak ada. Hal-hal yng kupikir tadinya statis, ternyata berubah-ubah. Hanya kini udara terasa semakin dingin. Sama halnya seperti ketika lampu mati di kamarku, suara musik dari tape terdengar lebih keras.

One fine day... you’re gonna want me...



Okay, sekarang aku harus bicara dengannya. Entah kenapa aku merasa dia memang menungguku.

"Kenapa naik kereta, Mbak? Bis kan nggak macet kalau malem?"

Dia menoleh. Agak kaget kulihat.

"Eng...iya. Soalnya kereta lebih cepet."

Well, dia kan tidak mesti segugup itu karena kukira dari tadi dia mengiginkan percakapan ini.

"Mau pulang kemana?" tanyaku sopan. Sekaligus berusaha kelihatan tidak terlalu antusias.

Sementara udara menghangat.

"Bogor."

Jawabannya membuatku ngeri. Bogor kan jauh sekali. Dan dia bisa seyakin itu pulang sendirian malam-malam begini, walaupun millennium punya banyak lampu untuk menggantikan matahari atau bulan kalau sedang absen.

"Mbak masih kuliah?"

Dia tersenyum.

"Atau kerja?"

Dia mengangguk. Lalu sebelum aku tanya, dia jawab, "Di matahari. Bagian promosi." Dia mengumpulkan rambutnya di satu tangan seakan mau mengikatnya. Tapi tidak. Saat itu dia tampak memikat.

"Mbak cocok sekali dengan pekerjaan itu, menurut aku."

"Kenapa?"

"Yeah...nggak banyak yang bisa mempromosikan matahari seperti cara mbak promosi sekrang ini."

Dahinya mengerenyit, "Hari ini saya off. Dan malam ini pun saya sama sekali tidak ingat pekerjaan sampai kamu menanyakannya."

"Oh ya? Berarti tanpa presentasi terang-terangan, Mbak sudah otomatis jadi model iklannya. Iklan matahari."

Dia cuma tersenyum. Padahal aku berharap dia tertawa. Aku ingin dia tahu aku sedang berusaha merayunya. Lama-lama aku jadi berambisi menarik perhatiannya habis-habisan.

"Kenapa Mbak off hari ini? Lagi nggak enak badan atau apa?"

Dia menggeleng. "Aku ingin istirahat. Tidak ada salahnya kan aku berhenti kan sebentar dan berjalan-jalan di bumi tanpa harus memikirkan matahari. Lagi pula bulan sebentar lagi akan menggabung diri dengan kami. Itu artinya, matahari bertambah sinar, dan tidak akan berpengaruh apa-apa bila aku bolos sehari saja."

Kereta ke arah selatan datang dan berhenti di stasiun kami. Aku menoleh ke gadis itu dan ia malah menyilakan aku naik duluan. Dia bilang dia akan naik ke arah berlawanan.

Seperti sudah ku bilang tadi, aku tidak mudah bingung. Aku langsung menyerah pada kenyataan bahwa Bogor tidak selalu berada di arah selatan Cikini. Dan walaupun aku rumahku masih tetap di selatan, aku tidak mau pulang sekarang.

Aku mulai mencair. Aku cuma petualang muda yang jatuh hati kepada seorang gadis yang bekerja di bagian promosi. Jadi, kulanjutkan saja petualangan baruku.

Kukatakan padanya sungguh-sungguh bahwa ia tidak boleh bolos lagi lain kali. Karena itu bisa membuat udara untukku jadi sedingin salju dan hatiku sebeku es. Dan kalau sehari saja ia tidak masuk kerja, maka investasi orang-orang ke matahari jadi tidak berarti, karena penikmat matahari jadi berkurang.

Kuingatkan lagi padanya bahwa bulan tidak akan pernah menggabungkan diri dengan matahari karena ia toh sudah punya customer sendiri. Dan cahaya bulan adalah tandingan matahari yang bersinar dengan sama ajaibnya.

Kukatakan lagi padanya bahwa ia sangat cantik.

Ketika akhirnya aku mengantarnya pulang ke Bogor dengan naik bis, karena ternyata itu tadi kereta terakhir, aku merasa udara memanas. Begitu panasnya sampai aku berharap semoga gadis ini bangun kesiangan besok pagi supaya aku tidak merasa begitu kepanasan pada saat matahari terbit nanti.

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.