Skip to main content

Bersepeda Jelajah Jawa Madura

ASSA Wujudkan Nazar Presiden

(Sumber : Majalah Berita Indonesia Edisi 57 -2008)

Asosiasi Sepeda Sport Al-Zaytun [ASSA] mewujudkan nazar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan menyelenggarakan perjalanan sepeda sehat keliling Jawa-Madura menempuh jarak sekira 2000 kilo meter, selama 17 hari mulai tanggal 16 Mei sampai 1 1 Juni 2008.



Tour sepeda keliling Jawa-Madura ini sesuai nazar Presiden SBY diselenggarakan dalam rangka seabad Hari Kebangkitan Nasional. Juga memeringati hari lahirnya Pancasila (Nilai-nilai Dasar Negara Kesatuan RI), Hari Lingkungan Hidup Internasional dan Hari Anti Narkoba Internasional, serta hari lahirnya Yayasan Pesantren Indonesia.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono berjanji (bernadzar) akan menjadi patron gerakan sepeda nasional tahun 2008. Sehubungan rencana gerakan bersepeda keliling Indonesia, Presiden SBY berjanji: "Saya siap menjadi patron gerakan ini. Kita lakukan nanti, bertepatan dengan perayaan satu abad kebangkitan nasional Indonesia."

Janji itu dikemukakan Presiden sebagai wujud nyata partisipasi Indonesia untuk mengurangi emisi. Hal itu dikemukakan Presiden saat bertatap muka dengan kelompok Bicycle for Earth Goes to Bali, terdiri dari para pemuda pencinta lingkungan di halaman Kantor Gubernur Bali, Selasa, 4 Desember 2007.

(Hutan Kota Al-Zaytun)

Kala itu, Presiden SBY menegaskan, menangani isu global warming bukan sekadar wacana, bukan sekadar menelurkan kebijakan politik, bukan hanya seka¬dar komitmen kosong di belakang layar, melainkan aksi nyata. (Media Indonesia, 5 Desember 2007).

Saat Presiden SBY mengucapkan hal itu, Assosiasi Sepeda Sport Al-Zaytun (ASSA) telah merencanakan bersepeda keliling Jawa- Madura. "Desember itu kita sudah latihan, pada waktu presiden bicara, dan sudah mempersiapkan untuk Jawa-Madura. Kita senang mendengar ungkapan presiden itu. Kita pikir juga dilaksanakan," ungkap Syaykh Panji Gumilang.

Saat itu, ASSA telah melakukan latihan secara intensif. Selain intensif latihan dengan melakukan try-out di sekitar Indramayu, Jakarta dan Banten, ASSA pun terus memantapkan segala hal yang berhubungan dengan rencana perjalanan bersepeda keliling Jawa-Madura sepanjang 1889 km tersebut. Termasuk mengurus segala perizinan yang diperlukan.

Di antaranya, Surat Izin dari Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia. Mabes Polri mengeluarkan izin No.Po: SI/YANMIN/236/IV/ 2008/BANTELKAM tertanggal 3o April 2008. Surat Izin itu diberikan kepada Yayasan Pesantren Indonesia Ma'had Al-Zaytun, dengan penanggung jawab Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, untuk 'Perjalanan Sepeda Sehat Keliling Pulau Jawa dan Madura, dari tanggal 26 Mei s/d 11 Juni 2008. Kegiatan itu dila¬kukan dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional.

Surat izin dari Mabes Polri itu ditembuskan kepada Menpora, Kabaintelkam, Dir C dan D Baintelkam, Dir Lantas Babinkam Polri, Kapolda Jabar, Kapolda Jateng, Kapolda DI Yogyakarta, Kapolda Jatim dan Ketua ISSI Pusat. Selain itu, Mabes Polri (Kabinkam Polri) juga menindaklanjuti Surat izin tersebut de¬ngan mengirimkan Surat Telegram (No.Pol: ST/90/IV/2008) kepada Kapolda Jabar, Kapolda Jateng, Kapolda DI Yogyakarta, Kapolda Jatim Up. Dirlantas.

Selain memperoleh izin dari Mabes Polri, ASSA juga memperoleh rekomendasi dari ISSI (Ikatan Sepeda Sport Indonesia). Juga dilakukan kordinasi dengan beberapa Pemda dan Polda setempat. Sementara, Panitia Kebangkitan Nasional Pusat pun diundang. Namun sampai berita ini dikonfirmasi kepada ASSA belum ada jawaban dari Panitia Pusat Perayaan Hari Kebangkitan Nasional. Termasuk juga belum diperoleh kabar tentang pewujudan nazar Presiden tentang rencana gerakan bersepeda keliling Indonesia dalam rangka memperingati 100 tahun Harkitnas tersebut.

(Menanam Pohon di Setiap Kota)

Berhubung sampai sekarang tidak ada ceritanya, maka Al-Zaytun yang jalankan (wujudkan) nazar tersebut. "Kalau Presiden tidak melaksanakan, kita yang melaksanakan, berarti selesai, tidak dapat dosa," kata Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang. Menurutnya, ini menghindarkan dosa dari pemimpin-pemimpin yang banyak bicara tapi tidak dilaksanakan. Nanti kalau nggak begitu, dituntut oleh malaikat. "Eh itu, presiden itu yang ngomong, rakyatnya pun diam saja."

Syaykh Al-Zaytun menjelaskan, hal ini dalam bahasa Fiqih Islam namanya fardhu kifayah, artinya kewajiban yang diucapkan oleh seorang presiden (pemimpin), tapi presidennya lupa, rakyatnya ingat, berarti jalan sudah bebas. "Sebab, nanti kalau pemimpin negara kena karena nazarnya itu, berarti rakyat juga kena. Nah, kita mewakili yang lupa itu," jelas Syaykh Panji Gumilang.

Jadi Al-Zaytun menjalankan fardhu kifayah, ucapan, nazar dan fardhu kifayah-nya Presiden. Sebab, menurut Syaykh Panji Gumilang, ucapan seorang pemimpin, bila tidak dilaksanakan bisa mengkhawatirkan. "Ucapan Presiden di Bali itu sesungguhnya nazar. Fardhu kifayah hukumnya. Namun kalau tidak dilaksanakan akibatnya kepada semua. Maka Al-Zaytun mengambil nazar presiden," kata Syaykh.

"Kita yang memenuhi nazar presiden itu. Paling tidak pemenuhan kualitasnya, cita-citanya, pemikirannya walaupun nasibnya tidak," katanya. Syaykh menegaskan, nazar pemimpin-pemimpinlah yang kita laksanakan. Sebab kalau nazar tidak dilaksanakan, kena denda. "Denda itu dilaksanakan oleh malaikat, kan bahaya," kata Syaykh Al-Zaytun.

(Finish setelah menempuh 2000 KM Tour di Java-Madura)

Semua Persiapan Rampung

Segala persiapan dalam rangka perjalanan bersepeda keliling Jawa-Madura tersebut sudah rampung. Mulai dari agenda perjalanan, rute dan tempat istirahat, keamanan, logistik (konsumsi) dan akomodasi, pelayanan kesehatan, laundry, bahkan dapur juga telah disiapkan.

Pesertanya 280-an orang ditambah pendukung teknis (teknisi Sepeda, teknisi kendaraan besar dan dokter dan lain-lain sekitar 6o orang sehingga berjumlah 340 orang. Semua peserta dan pendukung dibekali tanda pengenal dan kostum.

Perjalanan akan menempuh hampir 2000 km, tentu memerlukan nyali besar. Menanggapi hal ini, Syaykh Al-Zaytun mengatakan 2000 km itu belum panjang, kita hanya jalan. Daendels, justru membuat jalan. Lha kita tinggal jalan dan sudah banyak fasilitas. Tahun 1818 Daendels membuat jalan tidak pernah mengeluh.

Tapi banyak korban? "Jangan bicara korban, kalau bicara koran, tidak ada di dunia ini tanpa pengorbanan. Kan semua mengatakan, lewat mana? Lewat jalan Daendels. Lha, kok korban dihitung? Jesus mengorbankan dirinya untuk penebusan dosa. Kalau tidak ada pengor¬banan, tak ada itu jalan Daendels. Setelah itu, disambut dengan meledaknya Krakatau. Setelah Daendels selesai. Apa itu artinya? Bagus, kan begitu. Baru, lahir ulama besar di Banten, namanya Nawawi Albantani. Nah, itu ada rentetannya semua itu. Ini kita sedikit-sedikit, banyak korban, banyak korban. Sekarang orang tidak ingat lagi apa korbannya. Yang ingat, jalan Daendels rusak berat. Gitu toh? Makan korban juga kan?"

Jadi harus berani ambil risiko ya? "Bukan berani ambil risiko. Perjuangan itu berisiko. Jangan sekonyong-konyong berani ambil risiko. Risiko jangan ditantang. Tapi setiap pergerakan, perjuangan, pembangunan, ada risiko. Jangan pernah ditantang risiko itu. Menantang risiko itu, sombong. Daendels juga tidak menantang risiko," jawab Syaykh.

Dia mengajak, ayo berjuang saja. "Jadi risiko itu jangan dihitung di depan. Nanti tidak risiko pun dibabat. Nah, ini nanti bisa jadi risiko, dibabat. Padahal bukan risiko," katanya. Menurutnya, Daendels itu, tidak menghitung risiko. Jalan terus. "Kalau dihitung, bukan risiko, anggaran belanja namanya kan?"

Setelah menjelajah Jawa-Madura, ASSA juga berencana bersepeda keliling Nanggroe Aceh Darussalam. Dari Karang Baru terus ke Banda Aceh, atau masuk Banda Aceh dulu terus baru masuk ke Singkil. Dari Singkil naik bis ke Medan, dari Medan naik bis lagi ke Karang Baru. Karang Baru naik lagi ke Banda Aceh. Jadi izinnya cuma satu. Polda, kalau kita lewat Medan harus dua izinnya, kalau sudah dua tidak diizinkan lagi nanti dengan Polda Medan atau Polda Aceh.

Credit foto dari sini

Links:

Situs ASSA

Pelita - Bersepeda Jelajah Jawa-Madura

Tour Sepeda Jelajah Malaka (Singapura - Mersing, Johor, Malaysia)

Suara Merdeka - Rombongan Nyanyikan Indonesia Raya di Hotel

Pikiran Rakyat - ASSA Selesaikan Jelajah Jawa Madura

Majalah Berita Indonesia Edisi 56 - Gaya Hidup Mengayuh Kereta Angin Al-Zaytun

Situs Al-Zaytun - Tour Jawa Madura Naik Sepeda

Majalah Madina - Meredam Pemanasan Global Dengan Mencontoh Ma`had al-Zaytun

Pemkab Kulon Progo Yogyakarta - Tour de Java Akan Singgah di Kulon Progo

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.