Skip to main content

Sandi: Wedang Jahe

Suatu hari di tahun 80-an, pengarang Hamsad Rangkuti pernah terjebak di sebuah desa yang penduduknya masih terbawa-bawa zaman revolusi. Jam tujuh malam sudah tidak ada penerangan. Orang-orang yang berkeliaran di jalan waktu malam akan ditanyai kata sandi -yang diubah setiap tiga hari- untuk memastikan orang tersebut bukan mata-mata NICA.



Hamsad berkunjung ke desa ini karena penasaran dengan cerita temannya, Budiman, yang tinggal di sana. Ia pun nekad datang malam-malam. Namun ketika ditanya petugas jaga, malang ia salah menyebutkan kata sandi, hingga akhirnya ia ditangkap dan dibawa ke markas jaga.

Di markas itu ternyata yang bertugas tak lain adalah temannya sendiri, si Budiman.

“Budiman! Ini aku Bud! Masa kau tidak mengenal aku?” serunya ketika entah mengapa Budiman seolah tidak mengenalnya dan bersikap kasar padanya.

“Wedang jahe!” teriak Budiman kepada anak buahnya. Dan setelah meminumnya, ia makin aneh seolah tak pernah mengenal Hamsad. Ia menyuruh anak buahnya memeriksa luar dalam si pendatang yang salah menyebut kata sandi itu.

Ajaib. Rupanya jika menenggak wedang jahe sepanjang malam, seseorang bisa lupa dengan teman sendiri dan tetap bersikap tegas. Jika minuman ini sudah meluncur di tenggorokan, dan badan menjadi panas, para penjaga malam itu akan semakin patuh kepada peraturan. Tak pandang bulu.

Wah, bagus juga kalau benar-benar ada kejadian yang seperti ini di Indonesia. Para aparat hukum akan anti KKN hanya dengan minum wedang jahe setiap hari. Tapi sayang, cerita di atas hanyalah fiksi yang ada dalam imajinasi sang cerpenis, Hamsad Rangkuti. Tetapi pesannya, bahwa minuman jahe membuat seseorang menjadi kuat tentu berdasarkan fakta.


Tanaman jahe telah ditemukan pada lebih dari 5000 tahun yang lalu oleh orang-orang China dan atau orang-orang India. Menurut data tahun 2005, kedua negara tersebut menduduki posisi pertama dan kedua produsen jahe ke seluruh dunia. Sedang yang ketiga adalah Indonesia.

Pada zaman kolonial abad ke-18, Belanda banyak mengirim jahe dalam bentuk permen dari Batavia ke Eropa. Rupanya masyarakat Barat amat menggemari permen hangat ini untuk mengatasi musim dingin. Maklum, jahe hanya dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Berdasarkan berbagai penelitian, jahe disimpulkan memiliki manfaat kesehatan yang tidak sedikit. Di antaranya menurunkan tekanan darah, membantu kelancaran pencernaan, membantu memperkuat otot usus, mencegah maupun mengobati masuk angin dan mabuk perjalanan (termasuk nausea) serta juga baik bagi perempuan hamil untuk mengatasi mual-mual (morning sick). Ada pula khasiat meredakan rasa sakit seperti nyeri rematik dan juga sakit kepala.

Zat gingerol dalam jahe pun dapat mencegah penggumpalan darah, sehingga mengurangi risiko tersumbatnya pembuluh darah sebagai pemicu penyakit jantung ataupun stroke. Selain itu gingerol juga diperkirakan dapat menurunkan kadar kolesterol.

Oleh zat antioksidan yang dikandungnya, jahe juga dipercaya dapat membantu tubuh melawan pilek dan flu. Sedang dari senyawa cineole dan arginine di dalamnya, jahe dapat pula merangsang ereksi, mencegah kemandulan, dan memperkuat daya tahan sperma.

Penelitian terakhir telah dilakukan oleh para ahli dari University of Michigan Comprehensive Cancer Center, AS, yang menguji efektivitas jahe terhadap sel penderita kanker. Ditemukan bahwa jahe dapat membunuh sel kanker ovarium, dan dengan demikian jahe terbukti dapat menghambat pertumbuhan sel kanker.

Di Indonesia pun telah dilakukan penelitian untuk menentukan obat terbaik bagi penyakit batuk atau TBC, dan ditemukan bahwa gabungan mengkudu dan jahe adalah ‘pasangan terbaik’ di antara 10 jenis tanaman yang diseleksi untuk diteliti dan diramu. Oleh khasiatnya yang telah mendunia, jahe dalam Ayurvedha disebut vishwabhesaj atau universal medicine.

Maka dari itu, jika Anda merasa masuk angin, atau mual-mual dalam perjalanan, atau terserang batuk, nyeri rematik, atau pun sakit kepala, kata sandinya hanya satu: wedang jahe.

Rina Nazrina untuk Parle

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.