Skip to main content

Perpustakaan Betawi di Jazzy Friday

Jum’at kemarin, di saat orang Amerika rame-rame merayakan Independence Day mereka, di Jakarta sini saya merasa --meminjam istilah Letto--, teraniaya sunyi. Namun tentunya anak gelandangan seperti saya tidak begitu sulit menemukan tempat berlabuh kalau sedang kesepian, khususnya di hari Jum’at. Pilihannya perpustakaan, atau pasar festival. Atau keduanya.

Jadi di sebelah pasar festival, tepat di belakang GOR Soemantri Brodjonegoro, terdapat sebuah bangunan perpustakaan yang menurut saya cukup lumayan di banding perpustakaan-perpustakaan daerah lain yang pernah saya kunjungi. Di dalam gedung bernama Nyi Ageng Serang itu, perpustakaan DKI terletak di lantai tujuh.

Lift-nya cukup luas dan representatif, setidaknya jauh lebih baik daripada yang tersedia di Pernas. Open access juga, artinya pengunjung bisa menyentuh buku langsung, nggak mesti lewat pustakawan.

Sekilas pandang, OPAC-nya oke, hanya komputernya kurang banyak. Fasilitas internet gratisnya cukup menyenangkan, walaupun ya itu tadi, komputernya kurang banyak.

Ruang baca juga oke, kursi nyaman, meja nyaman, luas, dan bersih. Koleksi fiksi kurang banyak bagi saya, setidaknya seingat saya perpustakaan daerah saya di pelosok Kabupaten Bangli menyediakan jauh lebih banyak koleksi Putu Wijaya dan Budi Dharma dibanding yang ada di perpustakaan ini. Tapi jangan tanya ensiklopedi, karena di sini cukup berlimpah jenisnya.

Lantai atas (perpustakaan ini dua lantai), adalah lokasi ensiklopedi, koran dan majalah. Koleksi korannya standar dengan majalah-majalah yang mayoritas majalah populer.

Yang menarik di perpustakaan ini (dan ini tidak saya temukan di perpustakaan daerah manapun) adalah ada satu ruangan khusus di lantai atas yang rancangan interiornya seperti rumah adat Betawi. Dengan pintu kayu itu, kursi-kursi di ‘teras’nya dan koleksi di dalamnya pun segala literatur tentang Jakarta. Ada sejarah, budaya, arsitektur, dan juga audiovisual, seperti tari-tari adat Betawi dan semacamnya.

Puas deh buat yang ingin ‘mengalami’ Betawi dari mulai sejarahnya, budaya, dan juga rumah adatnya.

Jazzy Friday with Friends

Keluar dari perpustakaan, tentu saya tidak ingin melewatkan pertunjukan jazzy gratis Ireng Maulana & friends. Tapi rupanya petang kemarin, Oom Irengnya berhalangan hadir. Jadilah saya menonton Jazzy Friday with Friends saja.

Tapi toh tetap menghibur. Karena judul acaranya yang ‘jazzy’ maka lagu-lagu yang dimainkan pun sebenarnya adalah lagu-lagu pop yang diberi sentuhan musik jazz.

Setelah sedikit smooth jazz instrumental pemanasan dari para awak band, masuklah dua vokalis, laki-laki dan perempuan, yang menyanyi duet We Could Be In Love.

Saya familiar sekali dengan vokalis yang laki-laki, karena sudah beberapa kali melihatnya tampil. Meski tak pernah jelas mendengar namanya siapa, tapi saya mengingatnya sebagai penyanyi tenor yang selalu sukses menyanyikan lagu-lagu macam The Prayer atau You Raise Me Up

Nah, kalau vokalis yang perempuan, baru kali ini saya lihat tampil. And she made my day with her cheerful smile. Mbak siapapun namanya, saya sangat terhibur dengan keceriaannya menyanyi malam kemarin. Suaranya juga soft dan oke sekali.

Meluncurlah dari mereka lagu-lagu yang familiar di telinga seperti Hard to Say I’m Sorry, Falling to My Love, Still a Friend of Mine, Still Got the Blues, Just the Two of Us, Wonderful Tonight, The Boy from Ipanema, L.O.V.E, Spain dan banyak lagi. Sempat pula ada pengunjung yang ikut menyumbang lagu Ayat-Ayat Cinta. Yuuk...

Hanya satu hal yang saya sayangkan di acara ini: apresiasi. Selayaknya adat para penonton Indonesia, orang-orang yang hadir saat itu malas sekali tepuk tangan. Boro-boro untuk ikut menari-nari atau sekadar standing ovation. Tepuk tangan saja mesti disuruh-suruh terus.

Saya yakin sebenarnya dalam hati sihsemuanya memberi penghargaan tinggi, tapi yah... mungkin ini masalah kesulitan mengekspresikan perasaan. Kita orang Timur ini memang kurang ekspresif (betul nggak ya?), atau mungkin juga pemalu.

Seperti juga saya, yang dari awal sampai akhir cuma duduk cengar-cengir sambil ikut menyanyi kecil bersama para penampil. Dan setiap akhir lagu saya berusaha mengeluarkan suara tepukan yang keras supaya terdengar lebih ramai :-)

Comments

  1. show yang benar-benar menarik, saya beberapa kali lihat oom ireng main jazz atau blues di situ

    ReplyDelete
  2. Iya kebetulan aja kemarin Oom Irengnya nggak bisa dateng karena katanya ada acara lain...

    ReplyDelete
  3. bravo jazz..!!!

    :-)

    ReplyDelete
  4. Pernah dengar perpus ini tp sy lupa dimana persisnya, Alhamdullilah tanya Oom Google diajak ke rumah Tante Rina. Terima kasih ya, atas info serta sharing Perpustakaan di kuningan tsb, kebetulan anakku pgn baca2 buku cerita & aku sdh janji ingin mengajaknya ke perpusatakaan.
    Salam kenal tuk Tante Rina dari Kamiilah (putri kami). Salam bahagia & happy weekend.

    Roess
    http://alqiada.blogspot.com

    ReplyDelete
  5. Makasi Mba Roess,
    Salam juga buat Kamilah.
    Seneng ketemu pecinta perpustakaan juga.

    Selamat akhir pekan dan sukses terus ya!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.