Skip to main content

Ketika Stroke Menyerang

Saat ponselnya berbunyi, Elia (36) bergegas menghampiri. Ternyata ada sms dari adiknya yang memberitahukan bahwa ibunya sedang sakit gawat. Tangan kirinya mendadak lemas, sulit digerakkan, gelas yang dipegangnya pun ter jatuh, bicaranya jadi pelo dan matanya mendadak tak berfungsi untuk sesaat.


Elia panik. Ia menangkap gejala itu sebagai serangan stroke ringan . Namun sms berikut dari adiknya cukup membuatnya lebih tenang. Adiknya itu memberitahu lagi bahwa sekarang kondisinya sudah baik-baik saja. Ibunya sudah dibawa ke rumah sakit (RS) dan sudah ditangani oleh dokter spesial . Sebentar lagi bisa pulang, matanya sudah melihat terang kembali, namun masih perlu terapi teratur untuk suara dan gerakan lengan. Ibundanya itu berusia 61 tahun. Terakhir ketika Elia pulang ke rumah enam bulan lalu, ibunya masih tampak bug ar. I a masih tetap aktif menjalani kegiatan sosial bersama ibu-ibu di lingkungannya , atau terkadang bolak-balik ke luar kota untuk menghadiri acara pernikahan keluarga.

Ia juga masih giat melakukan aktivitas rumah tangga seperti memasak, atau beres-beres rumah. Meskipun memang menjadi gampang lelah dan perlu banyak istirahat. Elia mulai bertanya-tanya. Apakah stroke yang dialami ibunya memang harus terjadi? Dapatkah sebenarnya stroke itu dicegah? K alau sudah kejadian seperti sekarang, dapatkah disembuhkan hingga ibunya kembali sehat dan normal?


Saat ini stroke menempati urutan ketiga di dunia sebagai penyakit mematikan setelah penyakit jantung dan kanker. Di Indonesia stroke menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian di rumah sakit. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena serangan stroke , sekitar 25% atau 125.000 orang meninggal dan sisanya mengalami cacat ringan atau berat . Stroke bagai momok yang tak hanya ditakuti para lanjut usia, tetapi kini juga mengancam usia muda .

Dulu statistik menunjukkan bahwa laki-laki lebih rawan terkena stroke dibanding perempuan. T et api hari ini, angkanya sama. Sebab utamanya adalah gaya hidup tidak sehat yang serta - merta meningkatkan risiko penyakit ini. Namun ada kecenderungan perempuan dapat hidup lebih lama dibanding laki-laki, maka kebanyakan penderita stroke berusia di atas 65 tahun yang berhasil sembuh total adalah perempuan.

Pada dasarnya terdapat dua jenis stroke , yaitu penyumbatan pembuluh darah otak, dan pecahnya pembuluh darah di dalam otak. Keduanya merusak sel dan bangunan dalam otak. Stres pun dapat menjadi faktor pemicu karena pada saat kita stres, pembuluh darah akan menguncup. Sebagai contoh, pasca-terjadinya gempa bumi besar di Kobe, Jepang, tahun 1995 menyebabkan angka kejadian stroke penduduk di kota tersebut meningkat hingga 90% pada tiga bulan kemudian.

Faktor risiko penyebab stroke umumnya terbagi dua. Pertama , yaitu yang bisa kita kontrol, di antaranya tekanan darah tinggi, kegemukan, merokok, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung. K edua , adalah faktor yang lebih sulit di kontrol, yaitu usia, faktor sosial, keturunan, dan diabetes.

Ada pula yang disebut ministroke atau Transient Ischemic Attack (TIA), yaitu saat aliran darah ke otak menurun sesaat, biasanya hanya dalam beberapa menit atau beberapa jam. TIA ini tidak boleh diabaikan karena jika tidak segera ditangani (kurang dari enam jam), maka penderita dapat mengalami full-fledge stroke dalam tahun-tahun berikutnya, dan tak jarang juga yang meninggal.


Agar ketika terjadi serangan dapat tertangani dengan baik, maka perlu untuk mengetahui gejalanya. Dalam buku Sehat Itu Murah (2007) dr. Handrawan Nadesul menyebutkan tanda-tanda gejala awal stroke , di antaranya: t ulisan dan tandatangan jadi semakin jelek , t angan tidak tangkas lagi , m engalami kesukaran dalam mengancing baju , j adi sulit menggunakan sendok garp u, m emakai sandal jepit sering lepas , j emari tangan tak lincah lagi , s emakin hari makin banyak yang lupa , dan b icara pelo, atau kalimat kacau.

Ada pula gejala lain seperti hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran, penglihatan ganda, vertigo , hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih, ketidakseimbangan, terjatuh, dan pingsan.

National Stroke Association (NSA) memastikan bahwa 80% dari semua jenis penyakit stroke dapat dicegah. Pencegahannya di antaranya dengan mengatur kondisi pembuluh darah atau tekanan darah, tidak merokok , menghindari alkohol, dan giat ber olahraga secara teratur. NSA pun menyerukan, “ Be Stroke Smart! ” Kita dapat mencegah datangnya serangan stroke dengan gaya hidup sehat dan hidup lebih bahagia.

Rina Nazrina untuk Parle

Comments

  1. Mai...ternyata migrain itu juga bisa menyebabkan stroke lho...km muat tulisan tentang migrain dunk...hehehehe..klo lg ga sibuk aja...

    ReplyDelete
  2. Yah... kamu jangan sampe parah migrainnya... :( Apa mau ke dokter aja??? With me?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.