Skip to main content

9 April


Koran Tempo, 18 Januari 2009

oleh Putu Setia

Dia datang dengan wajah riang. Entah itu mencerminkan "isi hatinya" atau "manipulasi hatinya", belum jelas. Maklum, dia sudah menyebut dirinya politisi setelah namanya tercantum sebagai calon legislator partai besar di nomor urut satu.


"Saya mundur sebagai calon legislator," katanya tiba-tiba, yang membuat saya kaget. "Saya tak ingin mengikuti pemilu, yang saya duga akan amburadul. Persiapannya tak beres. Saya kira pemilu nanti akan kacau. Distribusi surat suara kacau, penghitungan suara ruwet, pemilih juga bingung, dan yang tak ikut memilih pasti banyak," katanya lagi.

Saya belum bereaksi, ini guyonan atau serius. "Masyarakat di Nusa Tenggara Timur meminta agar pencoblosan, eh, pencontrengan 9 April diundur karena ada persiapan menyambut hari keagamaan kristiani. Di Bali sudah dipastikan sebagian besar masyarakat tak akan mencontreng karena hari itu tepat bulan purnama, puncak upacara Panca Walikrama di Pura Besakih. Ini upacara 10 tahun sekali, tak bisa diremehkan, pemilu saja siklusnya hanya lima tahun."

Saya mulai menyimpulkan, dia memang serius. Saya pun dengar soal kekhawatiran pemilu di Bali akan terganggu 9 April itu. Pemerintah pusat tetap ngotot, meski sudah ada keberatan dari Bali, ya, mau apa lagi? Penduduk Bali yang terdaftar sebagai pemilih kan tak sampai tiga juta, tak ada artinya dibanding seratus juta lebih penduduk Indonesia yang siap memilih. Mungkin itu pemikiran "orang pusat". Kini berbagai akal sudah dirancang, misalnya, tempat pemungutan suara dibuat di sekitar Pura Besakih. Kendalanya, bagaimana memilih calon legislator untuk kabupaten dan kota? Ada akal-akalan lagi, pencontrengan dimulai subuh, misalnya, pukul lima pagi, setelah itu masyarakat menuju Pura Besakih. Kendalanya, selain menabrak peraturan, mana ada yang mau jadi Panitia Pemungutan Suara?

"Tapi saya tak mau masalah lokal di Bali itu dibawa ke tingkat nasional. Tahu diri jadi minoritas. Ada teman saya di Jakarta yang sedang mempelajari undang-undang. Katanya, ada undang-undang yang menyebutkan, pemilu itu harus dilaksanakan selambat-lambatnya lima tahun. Pemilu yang lalu kan 5 April 2004. Kalau pemilu sekarang 9 April 2009, itu artinya lima tahun lebih empat hari. Ini melanggar undang-undang dan hasil Pemilu 2009 jadi tidak sah," kata teman saya lagi.

Saya tersentak. "Ulah Anda dan teman Anda itu yang bikin runyam. Persoalan yang sudah ruwet ini jangan dibikin ruwet lagi, akan menimbulkan konflik. Konflik itu sudah berjibun. Pemilu lima tahun lalu paling konflik antarpartai, sekarang konflik antarcalon legislator di satu partai dan konflik antarsaksi di satu partai. Lalu meningkat ke antarpartai, dan muncul lagi konflik di penghitungan suara untuk menentukan suara sah dan tidak. Janganlah ditambah lagi dengan keruwetan baru menggugat tanggal pemilu 9 April," kata saya dengan semangat.

"Jadi tak apa-apa pemilu tetap 9 April?" tanya dia. "Tak masalah, soal saya sempat mencontreng saat itu atau tidak, itu masalah lain. Lagi pula, kalaupun sempat mencontreng, saya pilih siapa? Kan Anda sudah mundur," jawab saya.

"Betul Anda akan memilih saya?" kata dia seperti menyesal. "Terus terang, ini off the record, saya mundur sebagai caleg karena uang saya habis untuk nombok pimpinan partai agar dapat nomor kecil. Eh, sekarang peraturan diubah dengan suara terbanyak, ya, saya pasti kalah, wong selama ini saya tinggal di Jakarta, mana ada rakyat yang kenal saya. Alasan saya mundur tadi, ya, supaya tampak ada idealisme,"

Saya sama sekali tak kaget.

Comments

Popular posts from this blog

Sebotol Wine dari Bali

Wine is inspiring and adds greatly to the joy of living.

(Napoleon Bonaparte)

Shalat di Pura Langgar

Mengenal Pura Langgar yang Bisa Dijadikan Tempat Salat (1)
Berawal dari Mimpi Diperintah Buat Pelinggih Berbentuk Langgar

oleh Sentot Prayogi, Radar Bali, 25 Juli 2012

Banyak kawasan objek pariwisata yang merupakan hasil akulturasi Hindu dengan agama lain. Termasuk akulturasi Hindu-Islam. Tapi Pura Langgar di Desa Bunutin bisa jadi satu-satunya bentuk akulturasi Hindu-Islam yang hingga kini masih menyatu. Yakni pemanfaatan pura yang tak hanya untuk upacara keagamaan umat Hindu, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Tiga Putu yang Memikat

Putu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya.

Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.