Skip to main content

Posts

Menikmati Kehancuran

You have five minutes to wallow in the delicious misery. Enjoy it... embrace it... discard it... and... proceed. --Claire Colburn, Elizabethtown (2005) Kegagalan itu biasa, konon. Dalam hidup bisa saja seseorang mengalami kegagalan berulang kali, dan juga berhasil bangkit berulang kali. Di sini saya tak hendak membicarakan tentang kegagalan, tapi sesuatu yang sedikit lebih besar dari itu.

Ketika Tapol Menulis

"Tadi malam saya mimpiin Presiden," kata saya pada teman satu sel. Ia pun berkata, "Wah, bagus. Itu pertanda bahwa kamu akan segera bebas. Selamat ya." Ah , tapi saya tidak percaya. Saya lebih mungkin dibebaskan kalau saja yang terjadi sebaliknya: Pak Presiden-lah yang memimpikan saya. [Disadur dari sebuah cerita dalam buku Menghitung Hari , Arswendo Atmowiloto] Kualitas tulisan yang lahir di dalam penjara mau tak mau membuat saya iri. Ada rasa ingin juga kapan-kapan tertangkap dan dipenjarakan. Tentunya jangan sampai karena ngutil di mini market, tapi untuk tuduhan yang mulia, semisal, memperjuangkan kebenaran yang tidak (atau belum) sejalan dengan kebenaran versi rezim sezaman. Maka predikatnya akan lebih bergengsi: Tapol (Tahanan Politik) Bukannya: Maljem (Maling Jemuran).

Tiga Putu yang Memikat

P utu yang saya maksud bukanlah sejenis kue, tapi nama orang. Di Bali, ada semacam tradisi -meski bukan keharusan- untuk memberi nama depan anak berdasarkan urutan lahirnya. Putu atau Wayan untuk anak pertama, Kadek atau Made untuk anak kedua, Komang untuk anak ketiga, Ketut untuk anak keempat, dan kembali lagi Putu atau Wayan untuk anak kelima, Kadek atau Made untuk anak keenam, dan seterusnya. Saya tidak tahu pasti urutan lahir keberapa tiga Putu berikut ini, tetapi satu hal yang pasti, mereka merupakan sosok yang sangat memikat. Mereka adalah Putu Wijaya, Putu Setia, dan Putu Pendit. Ketiga tokoh ini, dalam pandangan saya, memiliki setidaknya tiga kesamaan. Pertama, sama-sama orang Bali tetapi sudah lama tak menetap di Bali; kedua, sama-sama penulis karya-karya yang luar biasa; dan ketiga, sama-sama pejuang tangguh di bidangnya.

Miss Terrorist

Jawablah dengan cepat! Kalau Anda perempuan, dan akan menghadiri suatu acara penting, apa yang pertama kali akan Anda pikirkan? Yak, betul. Baju! Hm, sebenarnya tidak cuma perempuan, laki-laki juga mungkin berpikir sama. Tapi, kalau kaum yang satu ini ditanya pertanyaan di atas, jawabannya pasti sok-sok salah. “Pakai baju apa ya?” begitulah yang akan ada di benak sambil mencocok-cocokkan setelan dari kepala sampai kaki. Minggu lalu, ketika akan menghadiri sebuah festival internasional, saya pun demikian. Festival ini menghadirkan penulis-penulis dari dalam dan luar negeri, yang akan numplek blek di Ubud Bali. Saya pastinya bersemangat sekali ingin hadir. Sampai kemudian menjelang hari H, saya belum juga memutuskan untuk memakai baju apa. Pasalnya, biasanya sehari-hari saya memakai jilbab –the so called ‘busana Muslim’-, dan, saya bingung menentukan model bagaimana yang akan saya kenakan?

Lost in Translations

Sekilas Pandang Ubud Writers & Readers Festival 2007 Tak ada penerjemahan yang benar-benar cocok makna dengan bahasa aslinya. Selalu akan ada gap, atau sesuatu yang hilang dalam teks. Misalnya kata ‘good morning’ dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan ‘selamat pagi’ dalam bahasa Indonesia. Padahal, kata ‘good’ tidak sama artinya dengan ‘selamat’. Dan kata ‘morning’ juga tidak semakna dengan ‘pagi’.

Prometheus Makan Hati

Aku adalah panas. Bagaimana ya kukatakan kepadamu bahwa aku adalah panas yang mesti kau takuti. Masih ingat bagaimana sang Dewa Yunani telah menghukum Prometheus dengan mengikatnya di tebing batu Gunung Kaukasia? Mengikat tangan dan kakinya hingga ia tak bisa bergerak. Lalu seekor burung elang berputar-putar di sekelilingnya mengincar hati sang pahlawan, untuk dipatuk, dikunyah, dan ditelan. Si elang mengoyak hati Prometheus dan memakannya setiap hari. Karena setiap kali hati itu koyak dan habis dimakan, maka keesokan harinya dia akan kembali pulih seperti semula, siap untuk dikoyak lagi, dikunyah lagi, dihabisi lagi.

Menuju Penyejukan Global

Bumi semakin panas. Inilah isu yang sedang panas-panasnya dibicarakan di mana-mana pada tahun-tahun terakhir. Seluruh dunia memperingati isu pemanasan global ini setiap 22 April (Hari Bumi), menyusul pula setiap 5 Juni (Hari Lingkungan Hidup). Sebagian kalangan menanggapi dengan sangat serius, dengan melakukan berbagai pencegahan yang mungkin dilakukan. Sebagian orang lagi masih meragukan fenomena alam ini benar-benar terjadi, dan menganggap para ilmuan hanya mengada-ada saja. Dan yang paling parah, sebagian kalangan sisanya adalah yang sangat paham tentang makin panasnya bumi, lalu mereka justru membuatnya makin panas. Tanpa peduli akibatnya.