Skip to main content

Posts

Indonesia Butuh Strong Leadership

Oleh: Ch Robin Simanullang Wartawan Tokoh Indonesia Sepuluh tahun reformasi telah membuahkan berbagai perubahan menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Terutama perubahan di bidang politik (demokrasi dan kebebasan berpendapat) telah mencapai hasil terbaik dibanding bidang lain. Tapi masih belum berhasil di bidang ekonomi (menyejahterakan rakyat). Faktor pemimpin yang kurang kuat tampaknya justru memperlambat pencapaian hasil menyejahterakan rakyat tersebut. Dari pengalaman 10 tahun reformasi itu, agar refor- masi, demokrasi, penegakan hukum dan keamanan bermuara (menjadi solusi) pada kesejahteraan rakyat, Indonesia sangat butuh pemimpin yang kuat ( strong leadership ).

Satu Menit Pencerahan, Satu Menit Kearifan

Ensiklopedi Nurcholish Madjid "Luar Biasa. Sebuah karya yang bisa disejajarkan dengan karya Ibnu Rushd tatkala menulis filsafat Aristoteles." Demikianlah komentar M Dawam Rahardjo dalam peluncuran buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid karya Budhy Munawar-Rachman. Sepintas, komentar tersebut terkesan berlebih-lebihan. Akan tetapi, bilamana membacanya dengan teliti dan cermat, akan ditemukan kemiripan dengan beberapa karya Ibnu Rushd. Jika Aristoteles merupakan tokoh paling berpengaruh di Eropa dan Barat pada umumnya, Nurcholish Madjid merupakan salah satu pemikir Muslim terkemuka yang dimiliki bangsa ini.

Ensiklopedi Nurcholish Madjid

Al-Zaytun, Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian, menerbitkan buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid . Buku ini menggambarkan keluasan dan kedalaman Nurcholish Madjid (yang sangat ensiklopedis sebagai intelektual), juga kreativitasnya sebagai cendekiawan yang tanpa pamrih dan keberanian moralnya yang nothing to loose, ia tampil dengan gagasan-gagasan yang segar dan membebaskan.

Ketika Stroke Menyerang

Saat ponselnya berbunyi, Elia (36) bergegas menghampiri. Ternyata ada sms dari adiknya yang memberitahukan bahwa ibunya sedang sakit gawat. Tangan kirinya mendadak lemas, sulit digerakkan, gelas yang dipegangnya pun ter jatuh, bicaranya jadi pelo dan matanya mendadak tak berfungsi untuk sesaat.

Perpustakaan Betawi di Jazzy Friday

Jum’at kemarin, di saat orang Amerika rame-rame merayakan Independence Day mereka, di Jakarta sini saya merasa --meminjam istilah Letto--, teraniaya sunyi. Namun tentunya anak gelandangan seperti saya tidak begitu sulit menemukan tempat berlabuh kalau sedang kesepian, khususnya di hari Jum’at. Pilihannya perpustakaan, atau pasar festival. Atau keduanya.

Bicara tentang Bintang

Suatu hari di zaman Perang Dunia II, seorang tentara Inggris tampak sibuk membuka-buka sejumlah koran yang terbit hari itu. Ia membuka halaman demi halaman dan segera mencampakkannya jika yang dicarinya belum ketemu. Ruangan kerjanya penuh dengan kertas-kertas koran yang telah dikumpulkannya pagi itu. Satu yang dia cari. Rubrik ramalan bintang.

Sandi: Wedang Jahe

Suatu hari di tahun 80-an, pengarang Hamsad Rangkuti pernah terjebak di sebuah desa yang penduduknya masih terbawa-bawa zaman revolusi. Jam tujuh malam sudah tidak ada penerangan. Orang-orang yang berkeliaran di jalan waktu malam akan ditanyai kata sandi -yang diubah setiap tiga hari- untuk memastikan orang tersebut bukan mata-mata NICA.